Dewirahmawati8's Blog

Curhat Para Haji

Posted on: May 3, 2013

        Banyak cerita ketika ibadah haji, saya yang jarang di penginapan saja masih bisa mendengar curhatan para haji kepada saya. Bisa dipastikan karena berapa kepala dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda. Seperti perbedaan kebiasaan memakai AC dan tidak di dalam kamar. Contohnya ketika Haji A tidur, AC dinyalain dan ketika Haji B tidur AC di matiin lagi, sehingga harus dicari jalan tengahnya atau ada yang mengalah. Mereka yang mengalah bukanlah orang lemah karena sesungguhnya mengalah memerlukan kekuatan lebih. Saya pribadi lebih suka tidur dalam kondisi gelap, otomatis selama di Mekkah karena sekamar dengan banyak orang harus terang sehingga awal-awal saya menaruh bantal di atas kepala agar bisa tertidur.

        Ada kisah lain seorang Ibu haji cerita sama saya “itu loh wi Ibu haji….mentang-mentang kaya jadi sombong dan prilakunya begitu amat, suaminya kerjaan bonatif”. Terus ibu itu bilang “kalau suami saya naik haji karena sudah kerja puluhan tahun dan di bayarin kantor tapi ada tesnya seperti sholat sudah benar apa belum dll.  Saya berguman “waduh…. sampai seperti ini, saya saja tidak tahu mana haji kaya dan mana haji miskin apalagi yang bayar sendiri atau dibayarin, semua di mata saya sama kalau sudah di Tanah Suci, tidak peduli dia orang kaya di Indonesia”. Kemudian saya coba membesarkan hati ibu yang mengadu tersebut “kalau sudah ada panggilanNya rezeki dari mana saja bu, gpp juga dari kantor yang penting berkah dan itu suatu prestasi juga karena tidak semua orang bisa terpilih diberangkatkan haji dari kantor.” Lagi pula Allah tidak hanya memanggil orang-orang yang mampu, tapi memampukan yang terpanggil untuk ke Baitullah. Ini hanya gambaran saja sih jadi saya tidak menjelaskan secara rinci nama yang mengadu dan diadukan. Kita juga tidak bisa menerima aduan satu pihak, karena saya juga tidak begitu mengenal haji yang katanya sombong atau mungkin beliau juga tidak bermaksud untuk sombong.

        Selanjutnya cerita seorang Ibu yang suaminya seorang atasan, “kami harus membawa oleh-oleh banyak buat anak buah, kamu sih enak wi tidak ada beban” katanya. Dari nadanya beliau sudah bingung mau beli apa lagi buat oleh-oleh. Beginilah kalau jadi Ibu-Ibu yang kepikiran tentang oleh-oleh, padahal santai saja semampu kita. Namanya Ibu-Ibu juga sepertinya tidak pernah kehabisan cerita deh, ada temen yang jarang ke masjid juga jadi omongan, hadeh ….padahal jangan pernah menilai seseorang hanya dari apa yang dia lakukan tanpa tahu alasan sebenarnya mengapa dia melakukannya. Saya yang sering ke mesjid belum tentu lebih mulia dari mereka yang jarang ke mesjid. Contohnya seorang istri (Bu Endang) yang lebih mementingkan masak untuk suaminya yang sakit karena tidak boleh sembarang makan di luar dan Bu Heni yang sudah hampir khatam Qur’an 2 kali atau seperti Ibu-ibu di kamar saya yang suka membuka tafsir Qur’an kalau tidak ke masjid dll.

     Curhat seorang haji tentang teman kamarnya yang suka menghabiskan makanan dan tidak pernah mau keluar uang, gantian beli makanan gitu, terus kalau ada makanan nomor satu tanpa memperdulikan orang lain sudah apa belum. Padahal kalau di kamar saya malah ibu-ibunya sering sekali menawarkan makanannya kepada saya, malah bu sholeh ngupasin buahnya supaya saya makan, karena beliau tidak begitu banyak makan buah. Mungkin amannya anggap saja kita sedekah ngasih makan orang, supaya hati lega.

      Sederet masalah tentang penggunaan WC di maktab juga bisa jadi curhatan, misalnya itu orang kalau sudah pakai WC lama bener. Iya juga sih harus sadar bukan rumah sendiri yang punya kamar mandi pribadi. Berbeda di kamar saya, biasanya saya disuruh lebih dulu ke WC, karena mereka sudah pada tau dewi sebentar sekali di WC. Yup..mandi saya termasuk mandi bebek, singkat yang penting bersih. Ada juga terjadi persoalan hanya karena kamar mandi diketuk-ketuk jamaah lain, bisa panjang ceritanya. Kalau di kamar mandi sudah ada orang, saya tidak terpatok di WC depan kamar tapi bisa mencari WC yang lain jadi tidak harus menunggu.

       Ini dia antara bapak dan ibu-ibu yang bersebelahan kamar berebutan mesin cuci. Cerita ini saya dapat dari Ibu haji, “itu wi, bapak yang gak mau ngalah pakai mesin cuci sendiri sampai mesin cucinya di keluarin dari kamar mandi dan disimpan dekat kamarnya”. Wew…ternyata ada kejadian seperti ini toh, harusnya saling gantianlah mesin cucinya mungkin sebaiknya pakai jadwal pemakaian. Saya pribadi tidak pernah menggunakan mesin cuci di maktab, karena tidak banyak cucian juga sehingga tidak efisien. Biasanya sebelum mandi saya sudah siapkan air sabun di ember untuk merendam pakaian, nah ketika mandi pakaian yang dipakai direndam kemudian mandi dan setelah nyabunin badan ngucek cucian tapi kalau ada yang menunggu giliran WC membilas bajunya di luar kamar mandi ada wastafel. Lagipula pakaian kita juga tidak terlalu kotor paling debu sehingga saya tidak pernah menumpuk/menyimpan pakaian kotor di kamar demi kesehatan. Masing-masing kebiasaan orang memang berbeda tapi kita harus mencari cara jangan sampai menyusahkan orang lain.

       Kejadian ini biasanya di lorong maktab, ada bapak yang mempunyai kebiasaan merokok. Hal ini mengganggu yang lewat dengan asap rokoknya, apalagi jika asap masuk ke kamar. Orang yang sudah kecanduan memang susah dan kadang tidak memperdulikan orang lain di sekitarnya. Seharusnya ada kesadaran dari diri pribadi, gak kebayang berapa banyak orang yang menggerutu tentang hal ini. Sebaiknya orang seperti ini diungsikan kemana ya? he..he…

       Ini beda curhat orang yang tua merasa tersisihkan atau jadi beban orang lain.  Beliau pernah mendengar sendiri kalau ada jamaah yang tidak bersedia kalau diikuti/barengan, mereka hanya pengen berdua saja suami istri lebih leluasa dan bebas. “Walah…walah ada juga ya yang pemikirannya begitu” kataku.  “Begitulah wi, saya tidak pernah mau lagi jalan ke masjid atau kemana pun bersama pasangan suami istri, takut mengganggu” kata beliau.  Benar juga kalau sudah di tanah suci kita harus mandiri dan kalaupun memilih teman seperjuangan yang ikhlas.

        Semua curhat para jamaah haji bisa jadi gambaran jangan sampai saya seperti itu. Sesungguhnya setiap orang yang kita jumpai adalah bagian dari caraNya untuk mendidik kita. Kadang karena lidah kita bisa binasa maka renungkan pahala ini “aku menjamin rumah di teras surga bagi yang menahan diri berdebat walaupun dia benar” (HR. Abu Dawud).  Jangan pula merasa suci karena kita juga datang dalam keadaan kotor.

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: