Dewirahmawati8's Blog

Langit Madinah di Hari Terakhir

Posted on: April 24, 2013

Mandi malam saya lakukan agar bisa mengejar sholat terakhir di Masjid Nabawi setelah cuti sholat selama 5 hari, walaupun udara dingin beruntungnya di kamar mandi hotel ada fasilitas air hangat. Semua barang bawaan dan baju untuk besok juga sudah saya siapkan sehingga pagi tidak lagi repot packing. Alhamdulillah susu, makanan, shampo, sabun mandi dan cuci yang di bawa dari Indonesia habis pas dihari terakhir, sehingga mengurangi bawaan dan tidak mubazir tersisa. Berdasarkan pengumuman jam 10 pagi dari hotel kita berangkat ke Bandara Madinah. Saya berpikir masih ada waktu setelah sholat shubuh menikmati Masjid Nabawi. Memanfaatkan waktu yang tersisa, sholat shubuh memakai handuk sebagai sajadah. Hal tersebut membuat warga India di samping saya bertanya mengapa sajadahnya berbeda. Kemudian saya jelaskan bahwa sajadah sudah masuk koper besar dan di bawa ke bandara duluan (H-2 sebelum kita pulang), yang  ada hanya tas kecil.  Setelah berkeliling masjid dan hari terakhir ini saya puas-puasin memandang Masjid Nabawi serta menghirup udara segar pagi itu. Selanjutnya saya sarapan bubur ayam dan sop daging di restoran dekat Jam Madinah supaya di perjalanan nanti perut tenang.  Ternyata saya kembali ke hotel jam 9 kurang para jamaah sudah ngantri turun dari lift ke bawah. Saya adalah orang terakhir di kamar yang belum turun. Mereka lebih cepat dari jadwal karena untuk antisipasi keterlambatan.

jaGambar 1.  Jam di depan Masjid Nabawi

Sampai di bis saya dengan seorang nenek, kemudian beliau bertanya “mba nanti saya di pesawat duduk di mana?” sehingga saya jelaskan bahwa nanti duduk berdasarkan nomor kursinya di pesawat, kemudian saya menunjukkan nomor seat yang harus diingat.  Saya juga mengecek kelengkapan pasfornya yang harus disimpan baik-baik dan mudah mengambilnya untuk pengecekan di bandara. “Nanti kalau kurang paham atau perlu apa-apa bilang saja ke saya” kata saya.  Di bis di beri nasi kotak yang harus dimakan jangan sampai lewat dari batas waktu yang ditentukan (ada di atas kotak keterangan jam/batas waktu makan supaya tidak basi), tapi saya tidak makan karena sudah kenyang.

Sebelum masuk ruang tunggu bandara, tas tenteng dari yayasan di permasalahkan karena tidak boleh masuk ke bandara selain tas tenteng Saudi Arabia. Terpaksalah mengeluarkan isi di dalam tas karena hanya jaket jadi bisa dititipkan ke temen yang tasnya masih kosong. Sebelum pengecekan posfor para jamaah ngantri untuk pemeriksaan tas tenteng dan badan dari kaki sampai atas. Baris perempuan berbeda dengan laki-laki, jamaah lumayan lama berdiri sembari menunggu antrean pemeriksaan tas tenteng.

SAGambar 2.  Saat menaiki pesawat saudi Arabia  di Bandara Madinah

Bandara Madinah tidak begitu luas, selain ruangan tunggunya kecil dan kapasitas duduk juga sedikit sehingga ada jamaah yang duduk di lantai jauh sekali fasilitasnya dengan bandara King Abdulaziz International Airport (KAIA) di Jeddah. Di sini para jamaah dibagikan satu Al-Quran/orang.  Setelah sholat Dzhur kita baru take off, saya sholat di bandara. Toilet di Bandara ini hanya ada dua, sayap sebelah kanan untuk perempuan dan sayap kiri untuk laki-laki. Ngantri adalah makanan selanjutnya karena toilet dan tempat wudhu menyatu, saat itu jauh dari bersih toiletnya sehingga tidak nyaman dan tempat sholatnya pun sederhana hanya ruangan kecil.

Setelah ada panggilan kami naik bis ke pesawat berdasarkan rombongan, saya dapat tempat duduk namun saya berikan sama Ibu yang ada di depan saya sehingga saya di bis berdiri. Namanya Kakek bagio selalu mengikuti saya dari belakang padahal beliau rombongan 6 dan saya rombongan 7, ya sutralah ga usah dibahas, maunya kakek begitu mungkin beliau merasa nyaman dan aman kalau di dekat saya. Turun dari bis bandara dan sebelum naik pesawat, saya mengingat nomor kursi sehingga ketika di atas pesawat mudah tidak mencari-cari lagi. Namun tak disangka nomor kursi tidak berlaku, kami dipersilahkan duduk dimana saja. Saya pun duduk di jejeran depan dekat jendela, sebelah saya langsung ikutan duduk kakek bagio. Duduk di belakang saya bu wiwin dan pak soewardi (suami istri yang satu rombongan dengan saya), kami saling sapa.  Sebelum kru pesawat memerintahkan Hp di matikan, saya sempatkan untuk menelpon ke Indonesia sambil menghabiskan pulsa kartu Arab.

pesawatGambar 3.  Di dalam pesawat saat perjalanan pulang ke Indonesia

Selanjutnya pesawat sudah take off, karena masih siang maka telihat jelas Bandara Madinah yang banyak terdapat perbukitan. Ketika di atas langit Madinah saya masih bisa melihat padang pasir dan topografi pegunungan.  Dari atas pesawat saya bisa lihat suasana yang sangat gersang. Berat hati rasanya meninggalkan kota suci berjuluk Kota Bercahaya (Al Munawwarah) atau Kota Nabi karena sangat singkat, perasaan baru kemarin saya datang sudah mau pulang lagi.  Langit Madinah cerah dan masih berhawa dingin, pasti saya akan merindukan kota ini. Tak lama kemudian para pramugari menyuguhkan hidangan untuk makanan pertama kita di pesawat. Setelah makan dan perjalanan juga masih panjang ± 11 jam  Madinah – Jakarta, saya pun  menyenderkan kepala ke jendela dengan bantal kecil dan mulai terlelap.  Semoga perjalanan ini lancar dan selamat. Aamin.

DGambar 4.  Ketika di atas pesawat  langit Madinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: