Dewirahmawati8's Blog

‘alih profesi’ di tanah suci

Posted on: April 22, 2013

Selama perjalanan haji, lupakan kalau anda punya pekerjaan di Indonesia yang berbeda dan bisa terjadi ‘alih profesi’ adalah hal yang biasa. Saya pernah jadi tukang bawa belanjaan ibu haji, saya sendiri yang menawarkan jasa tersebut. Ada moment yang aneh ketika saya menemani bu Tati belanja, beliau rencana beli barang banyak karena untuk oleh-oleh. Beberapa toko sudah kami singgahi, sampailah di toko Arab saya hanya melihat-lihat sekeliling, sedangkan Ibu Tati asyik memilih barang yang ingin dibeli kemudian meminta saya untuk menawar sama pemilik toko. Lusinan tas dan sajadah yang bu Tati beli. Sang pemilik toko mendekati saya dan menawarkan tas dengan harga sangat murah, namun saya tidak tertarik untuk belanja. Akhirnya sebelum kami pulang meninggalkan toko, sang pemilik kembali menawarkan barang dagangannya “halal” katanya. Waduh…nih orang semangat banget sampai rela ngasih gratis sama saya. “afwan (maaf) & syukron (terimakasih)” kata saya, kemudian saya tidak mengambil sajadah tersebut.  Kalau dia mau harusnya memberi ke bu Tati, karena beliau yang sudah belanja sedangkan saya sama sekali tidak belanja. Memang saya tidak berniat untuk banyak belanja banyak-banyak, lagipula untuk oleh-oleh semua sudah di siapkan oleh mamah di rumah. Sehingga saya berbeda dengan jamaah yang lain setiap pulang dari mesjid ada saja bawaan barang belanjaan. Padahal berbelanja menurutkan hawa nafsu akan menyebabkan belanja berlebihan. Melihat belanjaan ibu-ibu yang sangat banyak, saya hanya bisa geleng-geleng kepala dan speachless sih secara barang-barang yang dia beli itu ada di tanah abang (mungkin nilai histrorisnya berbeda). Lagipula kita datang dengan niat mengerjakan haji, jadi tak elok terlalu banyak shopping. Sehingga rupa belanjaan saya masih bisa dihitung hanya satu buah baju 130 riyal, 3 jilbab, selusin gantungan kunci antik, 6 paket souvenir, satu onta hias, Qur’an kecil, 2 kaos kaki tawaf, makanan (kurma,coklat,madu) dan emas sebagai kenang-kenangan. Sehingga semua bisa masuk koper tanpa ada yang dikirim. Untuk keuangan saya juga tidak terlalu banyak bawa karena zaman sudah canggih cukup bawa kartu ATM, karena di Tanah Suci tersedia mesin ATM dan uang yang keluar juga langsung mata uang riyal serta beberapa toko menerima debet kartu ATM.

Alih ‘profesi’ lain adalah menjadi fotografer karena sering diminta tolong untuk mengambil foto ibu-bapak haji atau saya sendiri yang menawarkan diri untuk membantu mereka, moment pasangan berduakan sangat berharga, sayang jika tidak ada foto suami-istri bersama. Ini adalah hal biasa, kadang di Masjidil Harampun tanpa kita kenal dari negara lain suka minta tolong kepada saya untuk memoto mereka bersama ka’bah. Ini adalah suatu kepercayaan mereka menyerahkan kameranya dan beberapa kali saya mengambil foto mereka. Tapi ada suatu kejadian yang membuat saya merenung. Karena pengen difoto bersama masjid Quba maka saya minta tolong seorang bapak yang kebetulan saat itu hanya beliau yang ada di dekat saya yang lain masih sholat, namun bapak tersebut cuek saja, akhirnya saya berlalu dihadapannya, namun tak lama berselang bapak itu memanggil nama saya dan menghampiri serta menggambil kamera saya dan memoto saya (Bapak itu tau nama saya sedangkan saya sendiri tidak tau namanya hanya kenal wajah karena satu yayasan).  Peristiwa tersebut memberi pelajaran kepada saya antara lain 1. tidak semua orang bersedia seperti dirimu sendiri ketika diminta bantuan 2. kemungkinan bapak itu tidak terbiasa memoto orang lain 3. Bisa juga menjaga perasaan istrinya kalau liat lagi moto orang lain, kenapa saya tidak berpikiran sejauh itu ya  * istighfar tepok jidat. Ini kan perjalanan dalam rangka ibadah bukan tamasya, sehingga saya tidak kepikiran macam-macam, always positif thinking. Tapi saya juga yang salah harusnya menjaga diri, wanita itu sumber fitnah jadi berhati-hatilah!  Fakta ini membuktikan bahwa menjadi orang yang dipercaya sulit dan mencari teman yang dapat dipercaya lebih sulit.

Sederet profesi lain seperti menuang air zam-zam untuk orang lain karena harus mengantri, kasian yang sudah sepuh atau hanya sebagai pengantar ke sana kemari. Ketika di tenda Mina, saya pernah menjadi pemungut dan membersihkan sampah bekas makanan serta di masukkan ke dalam plastik hitam besar seperti karung yang saya minta dari petugas kebersihan. Petugas-petugas kebersihan adalah orang-orang berkulit hitam. Sampai Ibu haji Siti berkata “dewi kamu disuruh ya?”, padahal itu inisiatif saya pribadi. Tidak hanya orangnya yang beralih-alih dan barang bawaan saya pun bisa beralih tangan alias suka dipinjam jamaah lain. Selain pisau, teko air panas, kabel panjang, ada juga setrikaan keliling dari satu tangan ke tangan lainnya sampai beda kamar dan beda lantai menggunakan setrika saya. Senang juga bisa bermanfaat bagi orang lain, mari terus berbagi.

‘Alih profesi’ itu biasa, yang luar biasa adalah tanggapan masing-masing orang positif atau negatif.  Apa yang dilihat belum tentu sama dengan yang dipikirkan oleh tiap-tiap orang.  Kita juga tidak  bisa memaksa orang lain untuk bisa menyelami pemikiran kita. Yang terpenting tolong menolonglah kamu dalam kebaikan. Firman Allah yang lain juga menyatakan “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (Qs Al-A’raf:56).  Yup, Manusia melihat dari mata, Allah melihat dari hati. So bagi saya jelek di mata manusia gak masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: