Dewirahmawati8's Blog

Ketika “tamu tak diundang” hadir di Madinah

Posted on: April 19, 2013

Cukup singkat waktu di Madinah dibanding Mekkah, hanya 8 hari untuk mengerjakan sholat wajib jamaah dalam 40 waktu.  Hari ke-9, kami pulang ke Indonesia. Jujur di Madinah, ada sedikit perasaan kecewa terselip karena merasa masih kurang memaksimalkan waktu untuk lebih sering ke Nabawi. Baru beberapa hari di Madinah, sang tamu ” tak diundang datang ” (menstruasi).  Untungnya semua ibadah wajid sudah di laksanakan dan pengertian di negara orang tidak nyeri ketika “dapet” hanya pegal-pegal, biasanya sebelum hari H saya minum jamu kunyit.  Ketika waktu sholat hotel sepi, semua jamaah pergi ke masjid. Shubuh itu saya masih menyempatkan diri ke masjid hanya untuk mengantarkan nenek Lili (rombongan 8, saya rombongan 7) walaupun saya tidak sholat, karena beliau tidak berani pergi sendirian ke masjid, apalagi ketika di Mekkah beliau pernah pingsan dan kehilangan uangnya.  Jadi  hanya duduk menunggu di halaman masjid sampai sholat selesai. Walaupun tidak sholat setiap sore ada tausiyah ustad Rauf di halaman Masjid Madinah saya ikut mendengarkannya.

DSC00849Gambar 1. Halaman Masjid Nabawi

Kegiatan ketika tidak sholat, saya tidur atau bertamu ke kamar sebelah atau menjenguk yang sakit. Lama-kelamaan bosen juga kalau di kamar terus dan buku-buku sudah dilahap abis. Apalagi kamar saya pernah di ketuk sama orang yang tidak dikenal, ketika waktu sholat. Jangan pernah membukanya!! saat itu saya hanya bisa banyak dzikir dan menaruh bantal di kepala sehingga tidak lagi mendengar ketukan pintu tersebut. Akhirnya saya jalan-jalan ke mall sekitar Masjid Nabawi. Ada mall tempat favorit saya, tempatnya nyaman untuk menunggu ketika waktu sholat walaupun toko-toko pada tutup, ada sejumlah wanita Arab yang tidak sholat di sini jadi tidak sendirian. Pemandangannya juga unik, dimana tangga di hiasi seperti taman dan ada kolam air mancur di mall ini. Duduk di dekat air, jadi segar bisa sambil ngemil popcorn, kue, es krim dan melihat gambar-gambar koran karena tidak dimengerti bahasanya. Kalau anda pria jangan harap bisa duduk-duduk di sini karena akan di usir sama askar/satpam mall, mereka berpakaian seragam coklat. Sama halnya di Mekkah, di dalam restouran Madinah pun kita akan di halau ke Masjid jika adzan sudah berkumandang. Mudah mendapatkan tempat makan di sekitar Masjid Nabawi, tinggal pilih mau wisata kuliner apa. Di hotel Madinah kami mendapat makan nasi kotak, yang suka silahkan ambil jatah makanan saya, karena saya suka jajan di luar.

mall madinah

taman

Gambar 2. Mall Madinah tempat santai duduk di tepi kolam (atas) , tangga mall yang dihias tanaman seni (bawah)

Oh…ya, di Madinah juga saya pernah jalan berdua dengan Mbah (sudah sangat sepuh jalannya pun tertatih), saya mengantarkan beliau pulang ke hotelnya. Sebenarnya beliau ke masjid bersama teman-temannya, tapi ketika pulang sendirian karena yang lain pada mau belanja. Di perjalanan Mbah ini merasa tidak yakin dengan jalan yang kami lalui “mba tadi saya tidak jalan lewat ini” katanya. “Iya Mbah, ada banyak jalan alternatif menuju hotel, yang penting kita sampai hotel”, jawabku. Setelah memastikan si Mbah masuk kamarnya, kemudian saya keluar hotel kembali.

Sebelum jalan-jalan saya mampir ke ayam goreng Arab Al-Baik sebuah nama perusahaan fast food yang terkenal di Saudi Arabia, lebih murah dibanding KFC. Di kalangan jamaah haji, restoran ini juga cukup terkenal. Restoran ini menawarkan beragam pilihan masakan ayam, menunya antara lain ayam goreng tepung, ayam panggang, ikan fillet, nugget, udang, dan sandwich. Ada juga salad berisi sayur-sayuran segar ala timur tengah dengan harga 5 riyal. Untuk semua jenis minuman bersoda seperti pepsi, coca cola dan mirinda di jual seharga 1 riyal.  Untuk 1 porsi seharga 12 riyal berisi 4 potong ayam, 2 buar roti burger, kentang goreng dan sambal.  Al-Baik hampir bisa ditemukan di berbagai tempat di pelataran Masjidil Haram Makkah, Jeddah dan Madinah. Selama di Madinah sudah 3 kali saya beli makanan di Al-Baik, karena rasanya enak dengan bumbu meresap hingga ke dalam. Silahkan untuk mencicipinya tapi harus sabar mengantri, restoran ini selalu ramai. Keunikan restoran tersebut menerapkan pembedaan ruang makan untuk lelaki, perempuan dan family room. Biasanya saya makan di tempat, pernah semeja dengan orang Malaysia. Tapi kali ini dibungkus karena mendekati waktu sholat. Jadi kalau di Arab jika ingin makan di tempat sebaiknya setelah sholat atau jangan berdekatan dengan waktu sholat. Sebab petugas restoran tak sungkan untuk mengusir konsumen bila waktu sholat telah tiba, walaupun makananan kita belum habis. Peraturan ini berlaku untuk semua tempat bisnis di Saudi harus tutup sementara menjelang azan.

Pertualangan saya berikutnya adalah jalan-jalan ke Masjid yang berkubah unik yang nampak dari kejauhan dari jendela hotel. Dari pertokoan Masjid Madinah di kawasan Baqi ada akses jalanan lorong bawah tanah. Menyusuri jalanan, sampailah kesuatu tempat perkampungan kumuh, bangunan lama dan tidak teratur saya sempat bermain dengan anak-anak Arab di sini. Akhirnya setelah berkeliling sampailah saya di Masjid Bilal. Masjid ini tidak terlalu besar, sekat antara jamaah perempuan dan laki-laki berupa kaca, di bawah masjid ini ada aneka toko-toko. Saya sempat naik ke atas numpang ke WC.  Sebagian besar yang sholat di sini berkulit hitam. Ketika orang pada sholat saya di depan pintu masjid bersama wanita India, kami berdua ngobrol ngalor ngidul. Di depan masjid ada air mancur, taman dan di bawah pohon di sediakan kursi panjang untuk bersantai.  Di taman ini saya makan ayam goreng yang sebelumnya sudah dibeli dan jika haus ada kran minuman di sekitar taman tersebut.

Pulangnya ke Hotel saya berjalan kaki dengan menyebrang melewati jalan layang. Jalan-jalan di Madinah sangat ramah bagi pejalan kaki dan para pengendara cukup menghormati pejalan kaki. Mereka umumnya menghentikan laju mobil dan mempersilahkan kita menyebrang. Ribuan burung merpati pun bisa hidup bebas di kota ini, ketika pagi burung beterbangan ke sana-kemari.  Tidak jauh dari sini ada restouran ikan bakar, kita bisa memilih ikannya sendiri masih hidup dan segar, cuma sayang masakan mereka kurang bumbu tidak seperti Indonesia. Maklumlah karena di tanah Arab jarang ada rempah-rempah sehingga semua harus impor. Demikian cerita ku ketika mengisi hari ‘merah’ di Madinah.

mesjid bilalGambar 3. Masjid Bilal di Madinah

1 Response to "Ketika “tamu tak diundang” hadir di Madinah"

keberanian berpetualang cukup diacungi jempol. salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: