Dewirahmawati8's Blog

City Tour Madinah (Part 2)

Posted on: April 18, 2013

Perjalanan menuju Masjid Bir Ali sekitar ± 15 menit dari Masjid Nabawi. Setelah Bis parkir di depan masjid, kamipun turun dan merasakan suasana sepi karena musim haji sudah berlalu, hanya ada rombongan kami di masjid pada saat itu. Bangunan masjid dengan sentuhan artistik dan tembok besar menghadap jalan, ketika akan masuk ke halaman masjid kita harus menaiki tangga biasa terlebih dahulu. Lorong di sisi kiri masjid nampak indah. Aneka pepohonan rindang menghiasi halaman masjid sehingga nampak asri. Pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Bir Ali tampak rapih, bersih dan tamannya indah serta terawat. Di depan masjid terdapat perbukitan sehingga matahari pagi itu terbit dari balik bukit. Saya sesaat duduk di samping masjid sambil berjemur, lumayan menghangatkan tubuh.  Bir Ali adalah sebuah tempat miqat bagi penduduk Madinah yang akan berumrah atau berhaji, sebagaimana dicontohkan Nabi. Jadi hanya jamaah haji gelombang pertama atau jamaah umrah yang mendahulukan Madinah yang dapat mengambil miqot di sini. Karena saya beserta rombongan langsung ke Mekkah sehingga tidak merasai miqot di Bir Ali.  Namun sayangnya saya tidak masuk masjid dan sholat karena masih “palang merah”

DSC00875

bir ali

Gambar 1. Masjid Bir Ali atau Masjid Miqot depan (atas ) dan halaman masjid (bawah )  di Madinah

Destinasi selanjutnya adalah Jabal Magnet jaraknya ± 30 km dari madinah (seperti Jakarta-Bekasi). Jalan raya menuju jabal ini lebar dan mulus karena pemerintah Arab Saudi menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata. Jabal magnet terlihat tandus, gersang, kering dan dikelilingi gunung-gunung batu yang tinggi. Setelah bis parkir kami pun keluar dari bis, jangan lupa bawa kaca mata hitam dan topi.  Di jabal ini kami pun tak melewatkan moment berfoto bersama. Di area tersebut ada mobil putih dan bergambar warna-warni yang menjual es krim. Karena saya penggemar es krim, saya membeli es krimnya walaupun harus mengantri. Enak rasa vanila coklat dalam cone sebagai pelepas dahaga.

 Jabal magnet atau yang disebut juga sebagai lembah Jin dan lembah gravitasi. Kata supir bis berbagai versi berkembang di tempat ini ada karena memiliki anomali gaya gravitasi, ilusi optik bahkan tempat berkumpulnya jin sehingga mobil yang melintas di daerah ini bisa berjalan sendiri dalam keadaan mesin mati. Kecepatan berjalannya bahkan bisa lebih dari 120 Km/jam. Dalam perjalanan pulangnya kami menikmati sensasi mobil berjalan sendiri dan merasakan dorongan magnet ketika melaju dengan kendaraannya, sebenernya saya ingin merasakan lebih lama tapi para ibu-ibu teriak ketakutan “sudah…sudah…” sehingga supir mulai perlahan mengerem mobil. Jika di lanjutkan maka di jalan sepanjang 4 km itu bus tertarik magnet.  Jabal magnet memang sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk melihat dan merasakan adanya fenomena alam yang masih misterius.

jabal magnetGambar 2. Jabal Magnet di Madinah

Jamaah selanjutnya jalan-jalan ke pabrik Al-Quran yaitu tempat percetakaan Al-Quran terbesar di Dunia.  Percetakan Al Quran ini terletak di pinggiran kota Madinah, jika dilihat seperti pabrik surat kabar yang besar dan megah. Kondisinya bersih dan aneka tanaman menghiasi halaman pabrik. Mesin-mesin berteknologi canggih dan para pekerja pria semua. Berdasarkan keterangan yang di dapat bahwa Al Qur’an di produksi 10 jt/tahun dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Semoga yang membaca Al-Quran makin bertambah lebih dari angka produksinya serta sampai akhir zaman Al-Quran selalu terjaga keasliannya. Aamiin. Disamping berpahala besar, pembacaan Al-Qur’an merupakan salah satu amal yang dapat menyembuhkan penyakit hati. Sayyidina Abdullah bin Umar r.a menyebutkan bahwa Rasullulah SAW bersabda : “Sesungguhnya hati ini akan berkarat seperti besi berkarat”. Seorang sahabat bertanya “Wahai Rasululloh, apakah yang dapat menjadi bersinar kembali?” Beliau menjawab, “Membaca Al-Qur’an. Walaupun anda terbata-bata membaca al-Quran tetap mendapat pahala, saya sendiri jauh daripada sempurna bacaannya, yang penting ada hati sama Al-Qur’an.

Selain dalam bentuk cetakan juga terdapat pembuatan Al-Quran secara digital (CD/Kaset). Proses pencetakan Al-Quran tidak sederhana, ada timnya yang bertanggung jawab pertahap bagian. Hal ini mengingat huruf Arab yang rumit dan harus tepat sampai titik koma, tajwid bacaan dll.  Selain mencetak Alquran, di sini juga mencetak tafsir dengan berbagai bahasa. Al-Quran yang berasal dari percetakan di Madinah kualitasnya sangat baik dan terjamin. Wanita dilarang masuk ke lokasi ini sehingga kami hanya bisa menunggu di luar pagar dan jalan-jalan disekitarnya. Padahal saya minta izin ke penjaganya untuk masuk hanya untuk ke toilet, tapi tetap tidak diperbolehkan. Saya dapat foto-foto di dalam percetakan al-Qur’an karena nitip kamera. Di samping pabrik, ada galeri Al-Quran bagi pengunjung yang ingin membeli Al-quran atau sekedar melihat-lihat. Di pinggir jalan dengan hanya beralaskan tikar, ada para penjual pernak pernik kebutuhan rumah tangga dari kuningan dan penjaja buah kurma tak mau ketinggalan menawarkan dagangannya. Hari menjelang siang dan kami harus kembali ke masjid Nabawi. Ini adalah city tour kami terakhir di Madinah sebelum pulang ke Indonesia.

DSC00893

DSC00895

percetakan al quranGambar 3. Suasana di dalam percetakan Al-Quran di Madinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: