Dewirahmawati8's Blog

Sehari jalan-jalan di Kota Jeddah

Posted on: April 4, 2013

Ibadah haji di Arafah telah selesai, selanjutnya adalah mengisi hari-hari di kota Mekah. Kegiatan kami yang telah dijadwalkan adalah jalan-jalan di Jeddah.  Bis yang akan mengantar jamaah ke kota Jeddah sudah disediakan.  Lokasi pertama yang dikunjungi sebelum menuju kota Jeddah adalah perternakan susu onta.  Peternakan Onta berada sedikit di luar Kota Mekkah, tepatnya di Hudaibiyah.  Turun dari bis aroma kotaran Onta sudah tercium, sehingga saya pun memasang masker hidung. Peternakan tersebut merupakan hamparan luas padang pasir tandus dan dibiarkan terbuka alami dengan dikelilingi bukit batu cadas.  Onta yang dipelihara dimasukkan dalam suatu kandang terbuka yang hanya dibatasi oleh kawat sederhana agar onta tidak lari kemana-mana, di sini kita bisa melihat onta dari dekat dan berfoto bersama Onta. Saat itu matahari sangat terik, saya tertarik untuk minum susu onta. Di bawah tenda ala kadarnya ada orang Arab yang menjual susu onta, saya harus menunggu susu disaring dengan hanya selembar kain dan ember kemudian dimasukkan di dalam botol-botol. Selain itu kita harus mengantri untuk membelinya, sehingga saya hanya bisa membeli 2 botol, padahal pengennya lebih.  Harga susu yang dijual 5 riyal per botol ukuran ± 300 ml.  Susu onta di sini segar karena baru diperas pada hari itu dan bebas bahan pengawet. Saya langsung minum, enak hampir sama dengan susu sapi dan tidak ada rasa amis, manfaat susu ini untuk stamina. Tapi hati-hati yang tidak terbiasa atau sensitif dengan susu hewani bisa sakit perut.

perternakansmile Gambar 1. Peternakan susu onta di Hudaibiyah, Mekkah

Perjalanan selanjutnya adalah Kota Jeddah (Jeddah artinya “nenek perempuan” karena di sinilah dimakamkan nenek moyang manusia Siti Hawa). Perjalanan dari Mekkah ke Jeddah kita tempuh dalam waktu ± 2 jam. Di Jeddah banyak terdapat gedung-gedung berdesain modern, pusat perbelanjaan, dan rekreasi serta taman-taman yang berhiaskan lampu. Di sepanjang jalanan kiri dan kanan tumbuh pepohonan rindang dan hijau.  Hebatnya di negri Arab setiap pohon diberi satu kran air untuk penyiraman. Mobil-mobil tipe terbaru dan berkelas wara-wiri, namun sayang perawatan terhadap mobil kurang di sini. Kita bisa lihat banyak mobil yang penyok, penduduk lebih memilih beli baru daripada memperbaiki, maklumlah mereka adalah orang-orang kaya. Di Arab pohon itu mahal,  jadi jangan coba-coba untuk menabrak pohon jika tak ingin kena denda antara 3 ribu- 5 ribu riyal (kurs 3000 rupiah). Di sini hari libur kamis dan juma’at (di Indonesia sabtu minggu), otomatis jalanan lebih ramai ketika hari libur.  Di perempatan jalan Malik Fahd terlihat menjulang tinggi replika sepeda gowes, yang sering di sebut sebagai sepeda “Nabi Adam” (mungkin karena ukurannya besar ± 5 meter yang melambangkan manusia zaman dahulu).  Kalau sepeda Nabi Adam asli tidak mungkin karena besi pertama ditemukan paling 1000SM. Pada zaman Nabi Daud saja baru pakai peralatan besi, pembuatan baju perang serta senjata.  Sedangkan Nabi Daud AS diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 Sebelum Masehi (SM).

sepeda

 Gambar 2. Replika sepeda gowes raksasa, yang disebut sebagai sepeda ‘Nabi Adam’ di kota Jeddah

Kunjungan selanjutnya adalah ke Masjid Terapung (Masjid Ar-Rahman) Jeddah. Begitu turun dari bis, kami dibagikan nasi kotak. Jamaah pun mencari tempat untuk makan, ada yang dipinggir pantai, di depan masjid dan saya sendiri memilih makan beralaskan rerumputan yang menghadap ke Masjid Terapung. Setelah perut kenyang barulah keliling masjid, puas sekali saya bisa melihat-lihat pemandangan sekitarnya sambil berfoto ria. Indah nian di tepi pantai dengan hembusan semilir angin dan saya sempat menyaksikan matahari saat tenggelam (sun set).  Masjid terapung sebenarnya hanyalah sebuah masjid yang dibangun di tepi pantai laut merah.  Padahal laut merah tidak berwarna merah tapi jernih, bersih sehingga kita bisa melihat pasir dan bebatuan di dasar lautnya. Di sebut Laut merah,  karena zaman dulu di laut ini Firaun menyuruh agar bayi-bayi di bunuh dan dibuang ke laut untuk mencegah kejatuhan kekuasaan dirinya. Berada di tempat ini pula kita teringat dengan kisah tentang mukzijat yang diberikan Allah SWT berupa tongkat kepada Nabi Musa AS yang mampu membelah Laut Merah ketika dikejar bala tentara Raja Fir`aun. Nabi Musa AS bersama umatnya bisa menyeberang, sedangkan Firaun bersama bala tentaranya binasa ditelan gelombang.  Masjid ini berukuran sekitar ±20 x 30 meter. Bagian dalam masjid dihias dengan banyak tulisan kaligrafi.

DSC00751 Gambar 3. Masjid Terapung (Masjid Ar-Rahman) di tepi laut merah kota Jeddah, suasana ketika sun set

Seperti biasa tiap-tiap dari satu tempat kunjungan sudah selesai, Pak mulyadi (pembimbing haji) aktif mencari dan menghimbau para jamaah agar jamaah bergegas naik bis sehingga tidak ada yang ketinggalan. Setelah dari Masjid Terapung, perjalanan selanjutnya ke Masjid Qisas.  Di jalan kota Jeddah kita akan melihat air mancur yang tingginya ±150 meter, pada malam hari sungguh indah karena diwarnai hiasan lampu. Sampai di Mesjid Qisas, kami langsung ambil wudhu dan sholat maghrib. Masjid ini terletak di kawasan Balad Jeddah. Persis di sebelah baratnya terdapat Kantor Sekretariat Departemen Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi.  Jalan-jalan di sini waktunya singkat karena kelamaan ngantri wudhu tapi saya sempat mengambil foto dan di foto oleh Pak Mulyadi yang jadi fotografer. Masjid Qisas, tidak ubahnya sebuah masjid di taman kota dan beberapa sudut halaman masjid telah ditata pot-pot tanaman hias, dinding temboknya seperti bentuk jajaran genjang.  Apalagi di sebelah timur masjid terdapat danau buatan. Di halaman masjid, ketika menuju danau, ada seorang anak kecil berkulit hitam yang selalu mengikuti saya.  Ternyata dia ingin di foto juga, akhirnya kami berdua berfoto bersama. Setelah berfoto, eh…itu anak minta uang 2 riyal mungkin upah sebagai model kali ya.  Sesuai dengan namanya maka hukum qisas dilaksanakan disini, yaitu suatu pelaksanaan hukuman mati terhadap seorang terpidana, seperti hukum pancung. Eksekusi biasanya dilaksanakan secara terbuka, setiap selesai sholat Jumat di halaman masjid dan disaksikan masyarakat umum.

mesjid qisosGambar 4. Masjid Qisas, tempat pelaksanaan hukum pancung

Jalan-jalan terakhir hari ini adalah ke pusat perbelanjaan Cornice, tempat parkirnya juga sangat luas sehingga kami berjalan kaki dari bis menuju toko-toko. Sepanjang parkiran bis pun banyak yang berjualan dengan beralaskan tikar atau penjual keliling menjajakan dagangannya.  Pada malam hari di Cornice Shoping Center, otomatis bertaburan lampu-lampu sepanjang toko-toko. Di kawasan tersebut banyak menjual beragam souvenir, elektronik, pakaian, parfum, aneka coklat, kurma dan kuliner. Umumnya produk yang dijual di toko ini sebagian besar barang impor dari China, India, Bangladesh, dan Pakistan. Saya hanya melihat-lihat barang yang unik dan jarang ada di Indonesia dari lantai satu dan sampai atas sehingga saya belanja sekadarnya saja. Akhirnya saya membeli souvenir Onta yang terbuat dari bahan perunggu kuningan dan berhiaskan permata, nanti bisa dipajang di rumah dalam lemari kaca sebagai kenang-kenangan. Di pertokoan sini kita bisa menawar sehingga saya dapat harga onta setelah diskon 75 riyal.  Pengen juga sih beli arsitektur mesjid dari kaca, namun riskan bawanya takut pecah di jalan. Untuk kuliner di sini harga rata-rata ±10 riyal dan air mineral, segelas kopi susu, teh susu panas harganya sama 2 riyal. Di tempat ini pula kita baru bisa melihat perempuan tanpa jilbab dengan dandanan cukup mencolok.  Karena di Jeddah ini aturan berbusananya tidak seketat Mekkah dan non muslim pun bisa masuk ke kota ini.

IMG00580-20111117-1947 Gambar 5. Cornice Shoping Center di Jeddah

Hari terus beranjak malam, saatnya kami pulang ke Mekkah kembali.  Namun saya mau ke WC dulu, sehingga supir bis mengantarkan saya ke WC di mall yang ada di lantai atas. Supir bis ini berasal dari Madura yang sudah lama sekali tinggal di Mekkah, sehingga kita bisa bertanya sama beliau tentang Mekkah. Jadi ketika kita jalan-jalan jika tidak bisa selalu beriringan dengan pembimbing (maklum pembimbing banyak jamaahnya) kita bisa menggali informasi dari supir bis, karena saya sadar diri dengan keterbatasan bahasa tapi banyak hal yang ingin diketahui. Yang pastinya tidak bakal ketigalan bis, karena supirnya bersama kita🙂.  Selamat tinggal Jeddah, bila ada umur dan rezeki kita bersua kembali.

 

1 Response to "Sehari jalan-jalan di Kota Jeddah"

Walaupun sebelum ini saya agak kurang bersetuju dengan isu nie…
tapi setelah mengkaji blog awak terutamanya pos
nie.. saya semakin yakin… idea awak ada benarnya…
terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: