Dewirahmawati8's Blog

Perjuangan di Mina

Posted on: March 1, 2013

Setelah hampir tengah hari jamaah haji berangkat menuju Mina yang jaraknya hanya ± 2 km dari Muzdalifah, karena jalanan masih padat sehingga kendaraan melaju lambat.  Ujian pasti datang dari gesekan sesama jamaah, panasnya udara, sakit, lelah, lapar, haus, fasilitas yang kurang sehingga ada saja jamaah yang berdiri di bis harus dijalani.  Sebaiknya hindari mengeluh sehingga perjalanan tidak tambah berat, buatlah diri sendiri menyadari ini adalah perjalanan ibadah bukan berwisata.  Setiba di Mina, para jamaah turun dari bis dan pergilah ke tenda yang telah disiapkan. Sama halnya di Arafah di Mina pun kita tidur hanya beralaskan tikar yang kita bawa masing-masing.  Tidurpun otomatis berjejer seperti tusuk sate. Tapi inilah uniknya, hal yang tak pernah saya rasakan sebelumnya menjadi pengembara.  Tadinya saya pertama dapat tempat di pinggir  tenda dekat pojok tiang tenda, tapi tergeser oleh jamaah yang sedarah dan badannya lebih besar. Ya….sudahlah, yang ngecil ngalah sehingga saya pindah ke dekat pintu tenda karena di situ yang kosong.  Otomatis tempat tidur saya jadi tempat lalu lalang jamaah yang keluar tenda dan ketika malam pun angin langsung menerpa.  Lagi-lagi kita harus melipat-gandakan kesabaran itu makanan wajib.  Hal-hal yang tidak enak  tidak usah dihiraukan.  Bersyukurnya saya tidak diberi sakit sama Allah, padahal  badan tipiskan gampang masuk angin. Berusaha menikmati tidur dengan tidak memperdulikan ketidak nyamanan yang ada.  Mina adalah tempat untuk berjuang dan berkorban terhadap keegoisan diri sendiri.  Mabit di Mina dan melontar jumrah adalah wajib haji.

Berbeda di Arafah kita berdiam diri hanyut dalam perenungan dosa dan doa namun di Mina kita berjuang untuk berjalan kaki ketempat melempar jumroh.   Jarak dari tenda ke tempat melempar jumroh untuk jamaah Indonesia rata-rata ± 2 km, letaknya dekat dengan terowongan mina.  Melontar jumrah dilakukan mulai tangal 10 Dzulhijjah, kami melakukannya setelah sholat shubuh sehingga ketika keluar tenda masih gelap.  Tempat pelemparan jumrah yang harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati terowongan Mina yang panjangnya 800 meter dan lebar 12 meter dilengkapi kipas angin besar dan lampu dalam jumlah yang banyak, sehingga terasa sejuk dan terang.  Terowongan Mina ini ada dua yang terdiri dari 2 arah, satu terowongan untuk arus jamaah haji menuju jamarat dan satu terowongan lagi digunakan untuk arus jamaah yang kembali dari jamarat sehingga jamaah tidak saling bertabrakan.

Dimulai melontar jumroh Aqabah masing-masing  sebanyak 7 kali, kemudian menggunting/mencukur rambut, dengan demikian sudah tahallul awal. Pada hari kedua baru kami melakukan lempar jumroh Ula, Wustha dan Aqabah setelah dzuhur.  Jarak antar Ula, Wustha dan Aqabah ±200 meter. Ketiga jamarat yang dilambangkan sebagai tempat setan menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan niatnya menyembelih Nabi Ismail, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Pada saat melempar maka dinding pipih menjulang dan memanjang itu menjadi sasaran jamaah. Kerikil beterbangan dan suasana padat sehingga kita harus lebih berhati-hati ketika jamaah yang didepan berlari keluar dari dekat dinding sehingga berselisih dengan jamaah yang akan melontar. Sebaiknya kita berjalan menyamping ke depan atau mundur jangan berbalik ketika selesai melempar jumroh sehingga tidak sampai terkena lemparan batu jamaah lainnya.

Bangunan Jamarat memiliki lima lantai dan dilengkapi dengan eskalator. Jalur jalan masuk berbeda dengan jalan keluar sehingga jamaah tidak pernah berselisih jalan. Lautan manusia bukan saja tampak di sepanjang jalan menuju ke tempat jumrah atau kembali setelah melempar jumrah, tapi juga di atas dan di bawah jalan bertingkat.  Sambil berjalan kita akan melihat bukit-bukit batu yang curam dan terjal, tampak ribuan tenda tempat para jamaah bermalam.

Bagi yang nafar awal dilanjutkan dengan melontar jamrah Ula, Wustha dan Aqabah, masing-masing 7 kali setiap hari pada tanggal 11 dan 12.   Bagi yang nafar tsani dilanjutkan dengan melontar jamrah Ula, Wustha dan Aqabah masing-masing 7 kali setiap hari pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.  Jamaah kami termasuk nafar tsani sehingga meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Di Mina Jama’ah haji ngambil makanan ngantri.  Semua harus sabar atau kita kalah sama setan. Ketika dapur yang menyiapkan konsumsi untuk tenda kami kebakaran maka terjadi keterlambatan makanan.  Lagi-lagi saya mendapat makanan dari Ibu sebelah sehingga tidak kelaparan. Ketika saya meminta minuman jeruk kotak sama orang Arab, malah dikasih satu kardus sehingga saya bagikan di tenda sama jamaah lain.

Hati-hati ketika lelah bisa memicu kemarahan.  Ingat musuh kita adalah setan! bukan sesama jamaah, sehingga hindari pertengkaran. Ini pengalaman saya ketika ngantri makanan, sudah lama tapi makanannya belum datang sehingga saya berbicara kepada koki yang menyiapkan makanan kalau masih lama makanannya disiapkan sebaiknya jangan disuruh ngantri dulu.  Tiba-tiba masih di dalam barisan yang sama si Ibu di belakang saya menyeletuk, “sudah jangan cerewet ikutin saja kalau ga mau ngantri dan bla bla bla” ngedumel panjang lebar yang tidak begitu saya dengerin ocehannya.  Saya tidak mau menanggapi perkataan ibu tersebut saya diam saja walaupun dalam hati saya bukan tidak mau mengantri tapi kasihan yang sudah sepuh lama berdiri, kalau saya pribadi tidak masalah masih kuat, kalau perlu saya anterin deh makanannya tapi saya tak tahu banyak dikit dan selera menu yang mau diambil para jamaah. Tapi di belakang ibu yang ngedumel tersebut ada yang membela saya, terjadilah perdebatan di antar kedua orang itu. Cape deh hanya masalah kecil jadi begini jadinya istighfar banyak-banyak sambil merenungkan firmannya “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan terus terang (QS. 4:148). Hati-hati sama lidah! hindari berdebat jika ingin merasakan taman surga.

Kejadian lain adalah ketika saya mengambil air panas, di Mina ada kran air panas di dapur jadi jamaah bisa langsung mengambil. Kebiasaan saya selalu tidak hanya satu gelas untuk di bawa ke tenda tapi beberapa sehingga bisa di kasihkan sama siapa saja yang berminat. Namun tidak semua kebaikan dibalas dengan kebaikan ini ujian, terjadi kecelakaan kecil tanpa sengaja  ketika saya menyerahkan satu gelas air panas ke salah seorang Ibu malah bagian tubuh saya tersiram air panas.  Ibu itu berulang kali meminta maaf dan dengan perasaan sangat bersalah, padahal saya sendiri tidak marah dan berusaha melupakan kejadian tersebut dengan bilang “gpp kok bu”.  Kemudian saya ke dokter minta salep untuk yang terkena siraman tadi, untungnya ada sehingga kulit saya pun terasa dingin kembali tapi sebenarnya tidak parah karena terlapis baju sehingga tidak langsung kena kulit. Ini ujian tidak seberapa dibanding nikmat lain yang Allah berikan.

Yang paling parah adalah ngantri WC, makanya ada jamaah yang tidak mandi selama di Mina atau mandi tengah malam.  WC di Mina memang kecil tidak lebih dari 1×1 m, satu WC yang ngantri bisa sampai puluhan orang.  Apalagi WC kami dekat dengan jalanan dan pagar sehingga suka dipakai oleh orang-orang berkulit hitam yang tidak memiliki tenda resmi.  Sehingga kadang kala kami memakai WC jamaah dari daerah lain yang jauh dari tenda.  Jangan kaget kadangkala ada yang main nyerobot masuk WC tanpa mengantri, harap sabar jangan mengeluarkan kata-kata yang bisa merusak ibadah kita. Harap dimaklumin saja mungkin kebelet banget. Pengalaman saya adalah ketika saya dibarisan depan, sempat juga seorang Ibu meminta izin, beliau minta duluan untuk ke WC karena tidak tahan, saya pribadi tidak masalah, saya mengizinkan saja walaupun merasa tidak enak sama jamaah yang lain yang sudah ngantri panjang. Hindari buang air di luar WC. Sebaiknya yang suka buang air dan tidak bisa menahan terlalu lama, jangan lupa membawa pampers dewasa atau sebelum terlalu pengen buang air sudah ngantri di WC.

Tiga malam kami bermalam di Mina.  Usai melempar jumrah kembali ke Makkah.  Seperti biasa naik bis mengantri dan menunggu giliran, siap-siap berdiri dan panas-panasan (sabar.com sehingga selalu usahakn badan dalm keadaan fit). Di dalam bis tidak semua orang kebagian kursi, yang sudah sering bergelantungan di kota Jakarta tidak akan menjadi masalah. Di perjalanan bis kami sempat mogok, akhirnya kami berganti bis. Jarak yang harus ditempuh 8 kilometer dengan bus.  Ini lah ceritaku di Mina penuh perjuangan terhadap diri sendiri dan orang lain.

keluar terowongan copy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: