Dewirahmawati8's Blog

More giving than getting (Edisi Muzdalifah)

Posted on: February 28, 2013

Image

Setelah wukuf di Arafah perjalanan selanjutnya adalah ke Muzdalifah.  Rencana sesudah Isya, jamaah haji berangkat menuju Muzdalifah yang berjarak ± 8 kilometer dari Arafah.  Namun karena ada kendala maka tengah malam bis baru datang.  Jamaah ada yang tertidur sambil menungu dan ada yang masih begadang.  Ketika bis akan segera tiba, pembimbing memberi tahu agar bersiap-siap sesuai rombongannya.  Saya pun ke WC terlebih dahulu sebelum berangkat agar di perjalanan lancar.  Pada saatnya tiba kami harus mengantri naik bis dengan masuk kerangkeng besi berbentuk segiempat dan terdapat pintu keluar, sehingga naik bisnya melalui pintu tersebut.  Masuk pintu bis pun saling berdesakan antara jamaah dan gembolan/bawaan masing-masing.  Pada saat itu saya juga membawa tas salah seorang jamaah Ibu Siti yang sedang ke WC, jadi lumayan kiri kanan penuh bawaan. Ternyata beliau naik bis lain dan baru bertemu di Muzdalifah. Alhamdulillah saya dapat tempat duduk karena tidak semua orang mendapatkannya. Jika keadaan sedang macet maka perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah bisa menghabiskan waktu 4 jam, padahal jaraknya tidak lebih dari 8 km.

Di Muzdalifah,  jamaah haji yang datang lebih awal bisa mabit atau bermalam sampai lewat tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.  Sedangkan saya beserta rombongan sebelum shubuh baru berada di Muzdalifah.  Setelah sholat shubuh kondisi masih gelap di sana, kami harus mengumpulkan kerikil ± 70 butir sebesar buku jari dan dimasukkan dalam kantong/plastik yang telah disiapkan.  Ini adalah persiapan untuk melempar jumrah di Mina.

            Sarapan pagi ada yang membeli mie instan harganya 5 riyal, sedangkan saya sendiri hanya membeli air panasnya 2 riyal untuk bikin susu sachet yang memang sudah saya siapkan dari Indonesia.  Karena sarapan pagi saya selalu susu jadi bawa persediaan susu sachet cukup banyak untuk satu bulan.  Matahari kian meninggi namun bis yang akan menjemput kita belum ada. Sehingga sebagian orang memanfaatkan waktu menunggu dengan duduk, ngobrol, ngambil foto dan tidur.  Saya sendiri memilih jalan-jalan mengitari Muzdalifah sampai-sampai dikira petugas dari DEPAG karena dari tadi mondar mandir sambil bertanya-tanya sama jamaah dari wilayah lain. Ternyata mereka sudah lebih lama menunggu namun belum diberangkatkan juga ke Mina. Jadi wajar kami yang datang belakangan harus lebih bersabar. Kalau jamaah haji plus saya lihat mereka menggunakan mobil yang lebih bagus dan prosesnya lebih cepat. Tapi tetap kita tidak boleh iri kecuali dalam dua hal. Petama terhadap orang yang memiliki kekayaan dan mempergunakannya untuk menegakkan yang haq. Kedua terhadap orang yang memilki pengetahuan dan rajin menyebarkan pengetahuannya itu kepada orang banyak (HR. Bukhari).

Di tengah-tengah Muzdalifah beberapa WC yang berjajar, seperti biasa banyak yang mengantri.  Di sini saya bertemu dengan seorang kakek yang sangat sepuh mungkin 70-80 tahun karena sudah bungkuk, beliau terpisah dengan anak dan mantunya di Muzdalifah. Sang kakek pun menunggu dekat WC, karena kondisinya tidak mungkin saya bawa keliling mencari keluarganya.  Beliau jamaah berasal dari Kalimantan Selatan, ketika saya lihat slayer ungu yang di pakai. Mulailah saya berburu slayer ungu yang sama dengan punya kakek tersebut, sambil bertanya adakah yang kehilangan seorang kakek.  Alhamdulillah akhirnya saya berhasil mempertemukan mereka.  Perjalanan religi yang tak terlupakan bisa menolong orang yang tak dikenal.  Untungnya luasnya Muzdalifah tidak membuat saya lelah, Allah memang Maha baik memberi saya tenaga agar bisa menolong sesama.  Padahal ada rasa khawatir juga bakal ditinggal rombongan karena saya wara wiri sendiri, tapi sudahlah saya pasrah.  Ternyata ketika saya kembali ke rombongan masih pada belum beranjak dari tempatnya. Memang tidak lama berselang baru kita berbaris di pintu pemberhentian bis yang akan membawa jamaah ke Mina. Berdesak-desakkan kembali terjadi, hanya keluasan hati yang membuat semua ini tidak menjadi beban.  Haus sudah  pasti apalagi perbekalan air sudah menipis itulah ujian dari perjalanan ini.  Bersyukurnya saya masih diberi kesehatan. Hal kecil bisa kita lakukan tapi dampaknya besar seperti memayungi jamaah lain, membantu membawakan tas, tidak saling menyakiti fisik karena ingin buru-buru, ketika di bis memberi tempat duduk kita kepada yang lebih lemah, memberi senyum dll. Banyak hal untuk berbuat kebaikan tidak hanya memikirkan diri sendiri, karena kita tidak mungkin membahagiakan semua orang dengan harta kita tapi setidaknya berilah senyum bisa menguatkan sesama ketika  lelah.  Muzdalifah memberi pelajaran hidup untuk selalu more giving than getting.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: