Dewirahmawati8's Blog

Makna pengorbanan ( Edisi Sai )

Posted on: February 21, 2013

Image

Alhamdulillah, ketika menginjakkan kaki di tempat Sa’i yang cukup luas langkah ini terasa ringan sekali walaupun selesai  tawaf.  Ketika tawaf wajib berwudhu, namun ketika sai tidak wajib, tapi yang utama dengan wudhu, dan jika seseorang sai tanpa wudhu, maka sah hukumnya. Zaman sekarang Masjidil Haram memilki tempat sai yang nyaman dibanding zaman dahulu masih curam, bebatuan dan panas. Bukit Shafa dan Marwa sudah di beri kaca pembatas. Di dalam Masjidil Haram panjang tempat sai ± 400 m dan lebar 20 m. Tempat sai ini ada dua lantai dan hamparan lantainya dibuat dari batu marmer.  Lantai bawah dibagi menjadi dua bagian, satu untuk Sa’i menuju arah Marwa, dan lainnya digunakan untuk Sa’i dari Marwa menuju ke Shafa.  Diantara Shafa dan Marwa terdapat jalan khusus untuk kursi roda yang diperuntukkan bagi orang lanjut usia, orang sakit, atau orang yang lemah. Lantai dasar ini sudah dilengkapai dengan pendingin udara (AC) yang diatur dari sentral. Adem sekali sehingga bagi saya yang muda tidak terasa lelah bolak-balik antara Shafa & Marwah. Sa’i dilakukan dengan berjalan sambil berdzikir, bagi laki-laki, disunnahkan untuk berlari kecil ketika melewati antara dua tanda lampu hijau (neon hijau/pilar hijau). Di antara pilar hijau ini dianjurkan berdoa “Rabbighfir Warham Watajaawaz ‘amma Ta’lamu Innaka Anta A’azul akrom” (Ya Allah, ampunilah oleh-Mu dan rahmatilah oleh-Mu dan lampauilah segala kesalahan yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkaulah Ya Allah yang Paling besar lagi paling Mulia).

Sa’i antara Shofa dan Marwa, dilakukan tujuh kali bolak balik. Cara menghitungnya dari Shofa ke Marwa 1, Marwa ke Shofa 2, dan seterusnya, berakhir di Marwa. Karena pelaksanaan ibadah Sa’i merupakan ibadah yang menapak tilas pengalaman serta penderitaan yang di alami oleh Siti Hajar, maka untuk lebih khusuk pelaksanaannya, maka para jama’ah dianjurkan membayangkan derita dan kesulitan yang dialami oleh Siti Hajar ketika mencarikan air untuk anaknya Ismail yang ditinggal sang ayah Nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah. Walaupun pada kenyataannya sepanjang tempat sai tersedia air zam-zam, kita bisa berhenti sebentar ketika haus dan melanjutkan Sa’i. Hanya minum air zam-zam yang diperbolehkan sambil berdiri. Air zam-zam di tempat sai berupa kran seperti air ledeng dan ada pula yang sudah ditampung dalam wadah besar. Kita juga bisa memilih air zam-zam yang cool atau biasa.

Betapa indahnya melihat begitu banyak cinta yang terlimpah pada saat melakukan ibadah kepada Allah. Dan tujuh kali berjalan antara Shafa dan Marwah telah usai dilakukan. Di puncak Bukit Marwah, kami mengakhiri kondisi ihram dengan memotong rambut (tahalul). Salah satu wajib haji yang harus dilakukan oleh seorang jamaah haji adalah bertahalul. Tahalul yang berarti penghalalan adalah sebuah proses akhir setelah seseorang berihram (mengharamkan hal keduniawian).  Begitu semua rukun dan wajib telah diselesaikan, proses akhir dari umrah maupun haji disebut dengan tahalul ( penghalalan kembali ).

Saya sendiri sudah melaksanakan sai wajib pada malam hari langsung setelah dari melempar jumroh, sekitar jam 2 malam baru kembali ke penginapan. Sebagian jamaah keesokan harinya baru melaksanakan tawaf, sai dan tahalul untuk menyempurnakan rukun haji karena masih lelah dan memulihkan kondisi tubuh. Pagi harinya saya ikutan lagi ke Masjidil Haram. Tidak percuma kehadiran saya di sana bisa membantu para jamaah yang sudah tua.  Sesampai di teras masjid, saya membantu pembimbing Ustad Rauf mengabsen satu persatu jamaah yang hadir. Selanjutnya mendengarkan arahan ustad Rauf karena banyak jamaah yang sudah tua sehingga rombongan jangan sampai terpisah satu sama lain saling menjaga, laki-laki dibarisan terluar dan perempuan di tengah. Saat tawaf, tangan kanan saya memegangi seorang nenek, tangan kiri memegangi tas pembimbing yang di depan saya agar masih beriringan satu jalur dan di belakang saya seorang kakek yang memegangi tas saya. Selain bisa menolong mereka saya juga bisa melakukan tawaf sunah namun tidak ada sai sunnah. Tapi untuk selanjutnya saya harus berkorban tenaga sebagai pendamping sai. Saat sa’i saya pun mendampingi seorang nenek (sering dipanggil mak Nyamih oleh jamaah kami) di samping kanan dan seorang kakek (sering di panggil pak de/Pak bagio) di samping kiri. Umur mereka kira-kira sudah lebih dari 60 tahun sehingga saya jalan pun harus menyesuaikan.  Pak bagio masih sering ketinggalan beberapa langkah di belakang saya, dengan nafas ngos-ngosan mencoba mensejajarkan dengan kami. Jadi kami kadang harus melambatkan jalan sesaat ketika sai. Ternyata tugas saya tidak hanya menuntun mak Nyamih ketika sai namun mengajarkan apa saja yang harus dilakukan, karena mak Nyamih tidak hapal doa saat di Shafa, Marwah maupun di pilar hijau serta tidak mengerti urutannya. Kata beliau karena lagi berduka anaknya meninggal sehingga tidak sempat menghapal. Untungnya Kek Bagio hafal dan mengerti namun tenaga yang kurang dan wajahnya mulai pucat. Sambil sai saya selalu mengucapkan “semangat…semangat”, kemudian ada sahutan “semangat juga”. Sebenarnya mak Nyamih pergi haji bersama suaminya (jamaah kami memanggilnya engkong), namun engkong sedang sakit sehingga tidak bisa berbarengan. Pak Rauf melihat kami dari jauh karena beliau juga harus menemani jamaah lainnya.

Perjalanan spritual ini memberi pelajaran bagi saya untuk selalu bersyukur masih muda bisa berhaji dan tidak tergantung sama orang lain. Selain itu bisa bermanfaat bagi orang lain menjadi kebahagiaan tersendiri. Perjalanan panjang tak akan terasa dengan menghindari keluh kesah apalagi mencela orang lain. Nikmati hidup karena hanya sesaat, pengorbanan kita di dunia tidaklah berarti di banding kehidupan yang kekal kelak. Manfaatkan kedua tangan untuk menolong & berbagi senyum kepada sesama maka akan tumbuh ribuan bunga kebahagiaan di taman hati.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: