Dewirahmawati8's Blog

Hari Pertama Menuju Masjidil Haram (Umroh)

Posted on: February 15, 2013

Depan Masjidil Haram

           Saudara-saudaraku yang diberkahi Allah SWT, semoga kita semua berkesempatan untuk memenuhi panggilan ke rumahNya. Sesampainya di Maktab (hotel penginapan) kita harus mengenali kondisi di sekeliling tempat kita menginap (depan, samping kiri & kanan serta belakang). Hal ini dilakukan agar kita tidak tersesat ketika keluar dari maktab. Salah satunya yang paling mudah adalah mendokumentasikan jalan-jalan yang kita lalui antara Masjidil Haram dan maktab. Pada saat itu maktab saya terletak di daerah Misfalah. Jarak tempuh antara Masjidil Haram dengan maktab sekitar 2.5 km (pulang pergi 5 km).

            Di maktab Mekkah Al-Mukarramah, jamaah beristirahat dan mandi serta berpakaian ihram. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Masjidil Haram, pada jam ±09.00 pagi kami sudah keluar dari maktab. Sebelumnya mengambil air wudhu di maktab kemudian kami berjalan kaki ke Masjidil Haram. Karena kami termasuk keberangkatan jamaah haji gelombang dua maka sudah mengambil miqot di atas pesawat saat melintasi Ya’lam-lam.  Ada pemberitahuan dari pilot pesawat sebentar lagi akan melintasi Ya’lam-lam, jadi untuk jamaah laki-laki sudah memakai pakaian ihram sejak di pesawat sedangkan jamaah wanita masih memakai batik haji Sepanjang perjalanan menuju ke Mekkah, membaca kalimat talbiyah sebanyak-banyaknya “Labbaikallohumma labbaik. Labbaika la syarikalaka labaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk, la syarikalak”. (“Saya penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu dan juga kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu”).

            Hati ini sangat antusias melangkahkan kaki menuju Masjidil Haram tanpa terasa sudah berada di depan Masjidil Haram. Pertama kali menginjakkan kaki di teras Masjidil Haram, sedikit bingung dan tak sabar ingin melihat ka’bah karena belum terlihat.  Jauh dari yang pernah dibayangkan sebagian besar orang jika Masjidil Haram itu ternyata tidak dikelilingi padang pasir namun bangunan-bangunan menjulang tinggi yang terdiri dari hotel, toko, restoran dll.  Kami pun mengikuti pembimbing masuk ke Masjidil Haram. Maha besar Allah, pertama kali melihat ka’bah air matapun menetes semua rasa bercampur aduk luar biasa dan berdoa ketika melihat ka’bah.

            Tawaf pertama sekitar jam 10 pagi di mulai dari sudut garis lurus (tapi garisnya tidak ada) antara pintu Ka’bah dan tanda lampu neon berwarna hijau yang di pasang di sisi masjid (mulai hajar aswad ketemu hajar aswad lagi=satu putaran tawaf).  Pada batas ini, sambil melihat ke Ka’bah, kita melambaikan tangan 3 kali sambil mengucapkan : “Bismillah, Allahu Akbar”. Sepanjang tawaf bertasbih dan membaca do’a. Untuk mudahnya bisa membaca do’a sapu jagad : “Rabbana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhirati hasanah waqina adzabannar” di setiap kali melintasi rukun Yamani (sisi atau sudut Ka’bah yang menghadap ke arah Yaman dan sejajar dengan hajar aswad).  Selain itu juga berdoa di Multazam (bagian dari Ka’bah diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah). Selesai tawaf 7 putaran kemudian sholat sunnah di Maqom Ibrahim dua raka’at dan Minum air zam-zam. Sebelum meminum air zam-zam berdoa terlebih dahulu.

Tahap selanjutnya adalah sa’i atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah 7 kali yang diadaptasi dari peristiwa berlari-larinya Siti Hajar saat mencari air bagi putranya Nabi Ismail yang kehausan. Rangkaian umroh ditutup dengan cukur rambut atau tahalul, yang dilakukan oleh orang sudah dicukur terlebih dahulu. Karena kami sedang melakukan haji tamattu di mana umrah dilakukan sebelum haji, maka bertahalul dengan cukur pendek.  Jika jarak umroh dan haji berjauhan serta rambut bisa tumbuh kembali dianjurkan untuk menggundul rambut.  Sebab, mereka yang mencukur gundul rambut akan mendapat tiga kali doa Rasulullah SAW dibandingkan mereka yang hanya memangkasnya. Namun, ketentuan ini hanya berlaku bagi jamaah haji dan umrah pria, bukan wanita.  Bagi wanita hanya diperkenankan mencukur rambut seukuran buku jari. Sebab, tahalul dengan mencukur ini adalah wajib adanya maka bagi orang yang berihram bila meninggalkan tahalul akan dikenakan dam/denda seekor kambing. Demikianlah kegiatan umroh kami selesai setelah sholat dzuhur.  Saya langsung makan siang dan pulang ke Maktab. Sesampai di maktab mencuci pakaian agar tidak menumpuk. Saya memasang tali tambang untuk jemuran di dapur, karena rombongan kami sebagian besar tidak memasak tapi membeli makanan di luar. Sebenarnya tempat jemuran ada di atas gedung, tapi cape harus naik turun hanya untuk jemuran serta menjaga keamanan juga. Akhirnya yang lain juga ikutan jemur di dapur. Walaupun menjemur pakaian di dapur cepat kering. Saya pernah nyuci malam besok pagi juga sudah kering. Sebaiknya agar tidak tertukar pakaian kita sudah diberi tanda sejak di Indonesia terutama pakaian putih, bisa di beri nama pakai spidol permanen/dijahit benang sebagai tanda. Agar lebih mudah mengambil baju, saya selalu menjemur pakaian dengan menggunakan hanger dan penjepit jemuran sehingga pakaian tidak terlalu kusut juga. Semoga cerita ini bermanfaat karena hidup akan sangat berarti jika kita mau membagikan sesuatu dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: