Dewirahmawati8's Blog

Menyingkapi duri di awal pernikahan

Posted on: September 11, 2009

Ini cerita tentang Bejo dan Jeng kelin (nama samaran). Saya menghadiri pernikahan mereka, tapi belum juga seumur jagung pernikahan mereka sudah ada gejolak. Bejo menelpon saya bahwa istrinya jeng kelin sedang marah dan nangis terus-terusan, gara-gara sebuah sms yang bertuliskan selamat menempuh hidup baru bahagia di atas penderitaan orang lain, saya sekarang sedang hamil 2 bulan oleh suamimu. Ha…saya hanya tenganga mendengarnya kemudian saya konfirmasi ke Bejo sendiri, apa benar berita itu, jelas Bejo menyangkal karena tak mengenal no.hp dan wanita tersebut.  Ya…udah saya percaya, karena saya tau pribadi Bejo bagaimana.

Kebetulan saya kenal keduanya. Selanjutnya saya menghubungi Jeng kelin untuk mendinginkan suasana. Saya bisa merasakan sebagai perempuan, jeng kelin pasti syok dan bingung. Langit terasanya runtuh, hujan air mata terus-terusan. Kadang orang bersikap bodoh karena cinta, bersitegang untuk masalah yang belum jelas. Jeng kelin menceritakan kejadian yang sama, dia sudah menghubungi perempuan itu, tapi tak angkat-angkat itu telp dan membuat hati terluka. Saya hanya bilang kudu percaya sama suami, siapa lagi yang kita percaya selain pendamping hidup kita, karena hari-hari kita lebih banyak bersamanya. Perempuan penggangu hubungan kalina saja tak mau betemu hanya berani by phone, berarti diragukan keabsahannya.  Lagi pula tidak mungkin bejo bisa berbuat demikian, Bejo tau agama, Kemungkinan ada orang yang iri dengan kebahagianmu jeng, ini anggap sebagai cobaan pertama dalam pernikahan.  Tak usah pusing jeng, bila pacar suamimu segudang sebelum pernikahan, toh sekarang dia sudah menjadi suamimu.  Terserah perempuan itu mau ngomong apa, walaupun seandainya itu benar yang jelas Bejo menikahi Jeng kelin, Bejo lebih memilih mu menjadi istri. Balas saja Jeng tak peduli mau punya selusin anak dari orang lain, itu masa lalu dia, ketika kita sudah nikah maka kita harus menerima masa lalu dan masa depan suami kita, walaupun kenyataan sangat pahit menelan empedu kehidupan. Sabar dan bahagia, kita telah berbuat baik pada suami kalaupun suami tak membalasnya, jangan bersedih ada Tuhan yang tak pernah tidur akan memberi balasan yang setimpal.  Pertanggung jawaban suami kelak di yaumul hisab. Yang penting sekarang menata masa depan, merapihkan jahitan kehidupan, jangan biarkan terkoyak dengan masalah ini.

Musik cinta mengalun bersama melodi…….. pernikahan bukan sekedar pesta kemesraan dan cinta tapi juga cemburu, sakit hati dan pertengkaran.  Tugas berat pernikahan adalah mencapai kesepakatan, walupun kesepakatan adalah cerita yang tak pernah selesai, lorong tanpa ujung, dan sumur tanpa dasar.  Cinta dan kemesraan saja tak sanggup mengurainya. Untuk dapat hidup hanya satu cara menjadi manusia selengkapnya, tetapi betapa kita selalu tergoda untuk menjadi manusia yang cuma bisa menerima kebahagiaan tapi menolak kesedihan.  Padahal ujian kelengkapan itu ada dibalik rasa benci yang ternyata bisa kita akrabi, kejengkelan yang ternyata bisa kita sukai, kesalahan yang bisa kita maafkan dan tekanan yang bisa kita lumpuhkan dengan kesabaran. Pada akhirnya kita tak bisa memungut cuma apa yang kita suka.  Hanya orang-orang yang sabar dan kuat yang bisa menikmati indahnya hidup.  Saya hanya mendoakan semoga pilar rumah tangga kalian sakinah mawadah warahmah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: