Dewirahmawati8's Blog

Pak tua vs “Pengemis muda”

Posted on: July 30, 2009

Setiap pagi berangkat kerja, saya selalu berjalan kaki menuju gedung belakang di mana kantorku berada.  Saya menyusuri jalan sambil menikmati udara pagi.  Walaupun ada gedung namun masih banyak pohon-pohon yang rindang, di pagi hari kicau burung pun menyanyi dan menari dari satu dahan ke dahan lain  Jika saya datang kantor jam 7.30 wib, saya selalu bertemu dengan Pak tua di persimpangan jalan yang sedang menyapu dan membersihkan jalanan dari daun – daun yang berguguran.  Dengan hanya berbekal sapu lidi sebagai senjatanya dalam bekerja.  Pak tua tersebut selalu menyapa ramah dengan logat sundanya yang masih kental ”Neng angkat” (maksudnya neng berangkat kerja) sambil tersenyum ikhlas. Saya balas senyum dan menjawab ya pak, nuhun (terimakasih). Yang dilakukan pak tua tersebut adalah hal sederhana tapi dalam.  Saya salut dengan beliau walaupun sudah tua masih mau bekerja, umurnya tidak kurang dari 60 tahun, motivasi tetap bekerja masa tua tidak menyusahkan orang lain, selama masih sehat dan kuat.  Kadang hari libur kantor pun Pak tua itu tetap masuk kerja, orangnya tekun dan sabar.  Pak tua bertempat tinggal di gang limus, mempunyai 4 orang anak yang sudah menikah semua dan istrinya baru meninggal satu tahun yang lalu.

Melihat pak tua tersebut ada makna yang tersingkap, hidup ini perjuangan, tidak ada keberhasilan hidup tanpa airmata dan keringat. Kita harus tetap terus berjuang agar hidup semakin berisi. Ya…belajar merayakan hidup dengan penuh arti.  Keindahan hidup bukan dari panjang pendeknya umur, tidak juga diukur dari kaya miskinnya orang, melainkan bagaimana ia mengisi hidupnya. Nama pak tua itu adalah Pak Suminta.

Berbeda sekali dengan pemuda kemarin yang saya lihat di jalanan.  Seorang pemuda yang berperawakan kuat, berpenampilan sangar dan sehat.  Pekerjaannya meminta komisi kepada supir-supir. Padahal hanya berdiri di jalanan, tidak berbuat apa-apa, senjatanya adalah mengandalkan tangan di atas.  Jika tak diberi, dia akan marah-marah dan menendang atau memukul mobil.  Dalam hati saya bergumam ”Apa tidak sakit mas”? yang jelas lebih sakit sang supir, karena pasti ada sedikit luka di hati akibat perlakuan orang tersebut. Supir belum tentu ikhlas memberi uang padanya, apalagi kalau sedang kejar setoran. Dia tidak sadar bahwa cacian dan makian yang keluar dari mulutnya adalah sayatan luka bagi orang lain.  Apa enaknya dapat uang dengan cara demikian,  prilakunya sama dengan pengemis.  Sehingga saya memberi gelar kehormatan kapadanya sebagai ”pengemis muda”.

Mengapa pengemis muda tak mau berusaha? menjemput rezeki dari pintu lain yang lebih baik.  Pak tua itu saja masih mampu berdiri di kakinya sendiri, banyak hal yang bisa di lakukan untuk sampai ”Mekah”.  Terpikirkah olehnya, ketika kelak mempunyai anak dan anaknya bertanya papa kerja apa?  Hidup hanya sesaat jangan sampai berbuat sesat.  Semoga pengemis itu segera membuka mata hatinya.  Seseorang yang hatinya mati maka akalnya akan meredup.  Asal mau kerja keras walaupun hanya jadi tukang angkat beras. Mau menjadikan mental sekuat baja karena harus melewati dinding hidup dan jalan perjuangan yang semakin terjal.  Mungkin hari ini dia salah pada hari yang lain ia baik. Pengemis muda itu cenderung bersahabat dengan musuh yang ada dalam dirinya sendiri sehingga kemanapun dia pergi, musuh tersebut selalu mengikutinya.  Sulit sekali berbuat baik dalam hati, karena tidak pernah ada perlawanan. Musuhnya adalah malas.  Pak tua vs pengemis muda adalah gambaran nyata kehidupan di dunia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: