Dewirahmawati8's Blog

Seratus ribu harga sebuah “perdamaian”

Posted on: July 27, 2009

Sebelum matahari menampakkan cahaya, saya harus udah keluar dari rumah.  Bukan karena takut kena sinar matahari, tapi karena mengejar waktu jam 8.00 wib saya sudah ada di Bogor.  Setelah shubuh langsung berangkat dari rumah menuju Bulak Kapal, disanalah saya menunggu bis jurusan Bogor. Hal itu lebih cepat daripada harus ke terminal terlebih dahulu.  Beberapa menit menunggu bis yang di tunggu tak kunjung datang, padahal lagi buru-buru nih. Ups..lupa kalau hari ini Selasa jadi bis bogor rada telat.  Semenjak bis jurusan Bekasi – Bogor tidak lewat UKI lagi, bis tersebut jadi lebih lambat datangnya, selain hari Senin paling cepat jam 6.00 wib. Wah…kalau nunggu terus bakalan ga sampai Bogor tepat pada waktunya.  Akhirnya saya putuskan naik jurusan Rambutan, tidak nyaman sih dari pada bis jurusan Bogor, selain kebersihannya tak terjaga juga tidak ber AC, tapi apa mau dikata namanya juga butuh, enak ga enak kudu di lakonin, namanya mau cepat yang penting sampai dan selamat.  Dengan pertimbangan masih pagi jadi tidak akan terlalu panas di dalam bis.  Saya pun memilih kursi yang dekat kaca, sehingga angin sepoi-sepoi masih bisa mengelus kulitku. Setelah membayar ongkos saya pun terbuai dalam alam tidur. Perjalanan Bekasi – Rambutan tak terasa, entahlah apa macet apa tidak tadi di perjalanan.  Saya terbangun setelah sampai pasar Rebo sekitar pukul 7.00 wib.  Supaya lebih cepat saya tak masuk terminal Rambutan tapi saya turun di Jalan baru menunggu bis jurusan Bogor.  Sepuluh menit kemudian, ada terlihat bis jurusan Rambutan – Bogor. Hal yang tak biasa, lagi-lagi bis ini tak ber-AC  tapi via tol Jagorawi, tak apalah daripada harus menunggu lagi karena ada pelatihan jadi tidak boleh telat.  Bis ini pun lumayan penuh dengan penumpang, tapi untunglah saya kebagian duduk di sebelah seorang Bapak yang sedang tidur.  Selama perjalanan ke Bogor, saya tak bisa melanjutkan acara tidur karena kondisi bisnya memang kurang nyaman juga. Tak lama bis berjalan memasuki jalan tol dan kernet pun menghampiri saya untuk meminta ongkos, karena tak biasa naik non AC maka saya kasih Rp. 10.000,- dan dikembalikan Rp. 4000,-. ternyata luar kota dengan bis AC hanya beda Rp. 1000,-. Lagi-lagi kalau tidak di kerjar waktu lebih baik naik yang AC. Saya perkirakan sampai di Bogor sebelum jam 8.00 wib, walaupun telat paling 10 menit.

Namun apa yang terjadi, kita hanya bisa merencanakan Tuhan jualah yang menentukan. Bis ngantri isi bensin dulu, Bete lama nunggu, saya baca koran dulu.  Kemudian bis pun kembali melaju ke jalanan. Tiba-tiba di tol Jagorawi, bis yang saya tumpangi harus menepi. Tenyata ada Polisi yang menyuruh bis tersebut berhenti, karena tidak menyalakan lampu sen telebih dahulu.  Supir pun turun dari bis dan terjadilah percakapan diantara polisi dan supir.  Seperti biasa polisi minta surat-surat kendaraan dan SIM, cukup alot juga negosiasi di antara mereka.  Saya sudah tidak sabar, sebentar-sebentar liat jam tangan, waduh…beneran telat sudah jam 8.30 wib masih di tol Jagorawi. Memang supir juga salah tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Saya berdoa semoga di proses cepat, sehingga mobil bisa melaju kembali.  Kenyataannya supir pun memberi uang Rp. 50.000,- ke Polisi, namun polisi tersebut menolak.  Penumpang-penumpang yang berada dalam bis berdiri menyaksikan adegan ”aktor jalanan”. Masing-masing penumpang dengan opini mereka masing-masing, kata Bapak 1: wah…itu polisi malu-malu nerima uang, Bapak 2 : yang rada positif thinking bilang, itu polisi ga mempan di sogok, dia hanya menjalankan tugas.  Bapak 3 : Benar tak semua polisi mau menerima suap. Ibu yang di samping Bapak 1 ga mau kalah berkomentar, mungkin kurang kali. Mungkin diantara mereka ada yang benar, ada polisi yang jujur dan ada pula yang tidak. Sudah menjadi rahasia umum kalau diantara kita pernah melihat, seorang polisi di jalanan menerima uang dari pengendara motor maupun mobil. Supir juga harus sadar jalanan bukan milik sendiri, ada banyak nyawa yang dipertaruhkan jika nyupir seenaknya sendiri. Kadang pihak pengendara juga yang membiasakan, daripada ditilang lebih baik bayar sajalah, selain ga mau ribet dan bertele-tele berurusan dengan pihak kepolisian. Hmm….Kisah jalanan yang penuh di lema.  Harus ada kesadaran dari berbagai pihak sehingga kejadian ini tidak terulang. Peraturan di buat bukan untuk di langgar, dan polisi pun tidak mengambil kesempatan dari  kesalahan. Saya sendiri tidak mengerti hukum dan arti hukuman. Yang jelas hukum yang mendidik lebih bermakna, bukan hanya sekedar menghukum tersangka.

Lama juga kejadian di jalan tersebut, entah apa saja yang mereka bicarakan selanjutnya.  Hp berdering, saya di telpon panitia pelatihan kenapa belum datang. Pukul sudah menunjukkan jam 8.45 wib, acara akan segera di mulai.  Saya hanya bisa menjelaskan sedang ada masalah di jalan, mudahan sebentar lagi bisa sampai di tempat. Akhirnya bis pun bisa jalan kembali setelah supir memberi polisi tips Rp. 100.000,-. Ternyata seratus ribu harga sebuah “perdamaian” untuk mengakhiri panggung sandiwara di jalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: