Dewirahmawati8's Blog

Pesona Itikaf di masjidil haram

Posted on: March 28, 2013

Tak terasa sudah lebih 20 hari di Mekkah, ingin rasanya lebih lama tinggal di sini. Namun perjalanan kami selanjutnya adalah Madinah. Beberapa hari sebelum meninggalkan Mekkah, saya menyempatkan diri untuk Itikaf.  Kondisi badan juga masih fit.  Ketika itikaf sangat berguna sekali membawa sprayer sebagai pengusir rasa ngantuk dengan menyemprotkan air zam-zam ke wajah dan bisa juga untuk berwudhu sehingga tidak perlu ke WC.

 Ketika hati niat untuk itikaf, berarti sudah menitipkan diri ini kepada Allah SWT sebagai Maha pelindung.  Tidak ada rasa was-was karena di negeri orang. Masjidil Haram juga tidak pernah sepi selama 24 jam walaupun sudah menjelang tengah malam. Ada 2 anak kecil Arab masih bermain sedangkan Ibunya asyik mengaji. Saya sempat berkenalan dengan kedua anak tersebut, Kakaknya namanya Aisyah umurnya 7 tahun dan Adiknya baru 2 tahun, sungguh gemes liat anak Arab ini pengen nyubit  . Selain yang datang untuk beribadah terdapat juga para pekerja yang masih membersihkan lantai mesjid dan mengambil sampah. Sesaat setelah mereka mengepel tercium aroma wangi, bikin fresh mata yang mulai 5 watt.  Oh…iya kalau mau sedekah sebaiknya kepada para pekerja ini, mereka bekerja bukan mengemis. Di Mina pernah ada seorang jamaah yang membagikan real untuk para pengemis, namun akhirnya beliau dikerumunin orang-orang hitam tersebut. Mungkin maksudnya baik tapi caranya salah karena bisa membahayakan diri sendiri.

Ketika lelah duduk di masjid, saya biasanya pergi ke depan sebentar dan berdiri di depan pagar pembatas lantai sambil melihat yang tawaf dari atas. Sungguh indah hidup ini jika terjadi keselarasan, seperti jamaah yang tawaf. Dari atas terlihat aneka warna manusia (pakaian, kulit, negara, dll) tapi semua satu arah mengelilingi ka’bah.  Bahagia itu sederhana ketika menikmati hidup dengan penuh syukur dan hatipun tenang.

Saya memilih lantai 3 Masjidil Haram sebagai tempat favorit Itikaf karena hembusan angin bebas, tidak telalu ramai, langsung beratapkan langit malam walaupun saat itu tanpa taburan bintang.  Hawa memang terasa lebih dingin di lantai atas. Selama Itikaf bertemankan Al-Quran, karena jamaah kami dianjurkan untuk bisa khatam Al-Qur’an oleh ustad pembimbing. Kadang menutupkan mata sambil bertasbih. Walaupun godaan tidur itu sangat besar sekali. Masjid merupakan madrasah ruhiyah, sehingga membuat hati selalu tenang dan nyaman. Selain itu dengan Itikaf diharapkan bisa mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah SWT.  Berdiam di mesjid pun dapat mengontrol hawa nafsu manusia dan lebih mengingatkan bahwa kenikmatan dunia hanya sesaat, kampung akhiratlah tujuan kita.  Saya berharap  mendapat pahala beribadah dan sekaligus juga bisa membersihkan  jiwa dari dosa-dosa.  Pesona Itikaf di Masjidil Haram walaupun hanya 3 malam memberi kepuasan terhadap batin, terasa lebih dekat dengan sang Maha Kuasa. Panggillah kami kembali ya Allah, jiwa-jiwa yang selalu rindu akan rumahMu. Aamiin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: