Dewirahmawati8's Blog

Impian tentang happy call menjadi nyata

Posted on: July 22, 2009

Sudah lama saya ingin mendapatkan happy call, tapi harga cukup mahal, selain hukumnya belum wajib bagi saya dan pertimbangan lain hanya ingin atau butuh? Kemudian subsidi suami juga masih di negri antah berantah, jadi manajemen keuangan sendiri.  Keperluan lain yang primer di dahulukan, karena kalau menurutkan keinginan tidak ada habisnya. Happy call akhirnya tercapai juga. Kebetulan ada promo bayar tiga gratis satu, lumayanlah harga tiga kita bagi berempat dengan teman – teman kos.  Secara terminologi Happy call, Happy artinya bahagia, call artinya memanggil.  Tapi Happy call yang saya maksud ini adalah double fun yang memiliki 2 sisi permukaan untuk memasak dengan perangkat karet segel silikon dengan gagang bermagnetik, sehingga ketika kita memasak menghasilkan pressure tinggi, proses masak menjadi lebih cepat 30-40%, tidak tumpah saat masakan dibolak-balik dan hasil optimal, olahan ikan dan daging terasa lembut didalam dan crispy diluar, selain anti lengket, tanpa asap dan bau.  Manfaat Happy Call yang lain dapat memanggang lauk pauk, martabak, pizza, cake, serta mengatasi masalah memasak ikan tanpa percikan minyak. Mungkin dengan Happy call ini diharapkan juga bagi yang memasak merasa happy karena lebih mudah.

Saya pribadi lebih suka masak yang simple, praktis, ekonomis dan mencangkup all in one. Seperti Sup ala Dewi, bahan-bahan ada jagung sebagai sumber karbohidrat, telur dan ayam sebagai sumber protein, sayuran wortel, seledri, jamur, daun bawang sebagai sumber vitamin dan serat ditambah bumbu sup, beres deh.  Saya suka kasih nama sendiri masakan seperti salad pelangi (ada sayur, bengkoang, dan nanas), Ikan bumbu cerah, bistik komplit dll, padahal nama aslinya bukan itu.  Kekurangan masakan saya pasti ada, karena saya bukan super koki yang pengalaman terbangnya sudah tinggi.  Hanya masak kalau mau, lebih banyak belinya, yang lumayan rutin bulan puasa saja.  Apa tak pintar masak bisa dipecat jadi istri? tragis banget ya…kalau sampai itu terjadi, karena hanya melihat dari satu sisi, istri bukanlah pegawai. Kalau istri pintar masak punya nilai plus, itu baru setuju. Tapi jangan memaksakan kehendak juga. Toh zaman sekarang, banyak pria yang pintar masak, ga masalah bisa saling share, ngajarin istrinya. Masak itu lumyan lelah tapi kelebihannya kita lebih hemat, sesuai selera, hieginis dari pada makan di luar.

Masak itu pertama mau, mampu sebagai orang yang lengkap secara fisik dan ada kesempatan/waktu.  Ngomong-ngomong tentang masak, dulu saya paling jarang di dapur apalagi masak, semua sudah siap saji.  Jadi ingat pengalaman lucu, waktu SMU pulang sekolah main ke rumah om (adik mama) yang minta di masakin telor goreng, kebetulan istrinya sedang tidak ada di rumah, gaswat nih…Sayakan ga bisa masak dan paling sebel kalau sampai kecipratan minyak, mau nolak ga enak.  Akhirnya dicobalah masak telor,walaupun kekeringan alias sedikt gosong.  Saya kasihkan ke om dan om pun makan, sambil makan bertanyalah, telornya pakai apa?saya jawab tak pakai apa-apa dengan wajah tak merasa berdosa.  Kata om saya, pantesan tak ada rasa, harusnya minimal pakai garam. Saya hanya bisa tersenyum, tapi habis juga tuh telornya, karena lapar kali ya.

Mama suka menyuruh saya belajar masak, tapi sayanya kalau di rumah kambuh penyakit malas dan tidak antusias memasak. Banyak alasan, capelah dan lain-lain. Setelah kos baru sedikit mandiri dan mau mencoba untuk memasak, mulai ikut – ikutan  karena lihat teman – teman kos sangat seru dan asyik masak. Selain bosen juga masakan warung.  Masakan saya memang jauh dari sempurna, karena kita tidak bisa memuaskan lidah semua orang, masing-masing punya selera yang berbeda ada pedes, asin, dan manis.  Saya masih belajar, ada yang mau ngajarin tips masak? boleh. Saya saja masih ilmu spanyol (sparo nyolong) dari teman, buku resep trus modifikasi sendiri sesuai dengan bahan yang ada.

Pada dasarnya semua orang bisa masak tapi belum tentu pintar, ketika masak semua indera dipakai, bukan hanya rasa sehingga menciptakan citarasa yang ma’ nyos.  Berani mencoba dan mau belajar.  Semoga dengan Happy call, masak tambah semangat menyambut ramadhan, lidah dan perut happy, ibadah lancar amin…Kemudian bisa meningkatkan kreatifitas, modifikasi resep untuk media perut.  Apa anda pikir makanan saya enak sekali? tergantung siapa yang makan kalau saya sendiri yang makan, enak ga enak pasti habis he..he…Karena bagi saya masak itu perjuangan, perlu dihargai. Masak tidak hanya menggunakan otot tapi juga otak, dari mikirin menu, menghitung budget, belanja bahan-bahan, memperkirakan kadar rasa, meyediakan waktu, cara mengolah sehingga nilai gizi tak berkurang, bagaimana makanan tampil menarik sampai proses teknis di dapur, belum lagi beres-beres dan mencuci peralatan yang telah digunakan setelah masak.  Kalau pun kurang enak kritiklah dengan cara halus yang membangun demi kebaikan. Terimakasih kepada yang masak, karena sudah jerih payah menyediakan makanan.

4 Responses to "Impian tentang happy call menjadi nyata"

mbak dah diperbudak happy call nya ? sharing dong wajan ini bisa dipake buat apa aja sekalian caranya ya, makasih sebelumnya.

Happy call yg sy perbudak utk masak he…he…Yg jls praktis, mudah dan tak membuat dapur kotor krn cipratan mskan. Sebelum masak bagian atas & bawah wajan di olesin minyak terlebih dahulu, baru masukkan masakan ke dalam wajan dan tutup rapat, hy 1-2 kali bolak balik wajan. Punya saya ukuran sedang bisa masak 1 ekor ayam bumbu kuning, api sedang hanya kurang lebih 15 menit matang. Masakan lain jg bisa seperti goreng ikan, sayur, martabak dll. Intinya msk sih sama sj hy alat yg digunakan beda.

Aku jg bukan tipe perempuan yg suka masak.
Keinginan sih ada, tp untuk mulainya berat banget, padahal kan harus memenuhi gizi keluarga. Ada niat jg pengen punya happy call, klo memang bsa memudahkan masak boleh jg. Tp kira2 mba dewi nemuin kekurangan happy call ga?

Kekurangannya menurutku rada berat mgkn krn bahan yg di pakai, coba sj lebih ringan jd enak megangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: