Dewirahmawati8's Blog

Bulan Dzulhijjah telah tiba, apa yang kita lakukan untuk menyambut bulan Dzulhijjah?  Sewajarnya tiap muslim memperbanyak amalan sholeh terutama 10 hari pertama Dzulhijjah dengan mengerjakan haji dan ini adalah sebaik-baiknya ibadah, selanjutnya berpuasa pada tanggal 1-9 Dzulhijjah terutama pada hari Arafah (khusus yang tidak mengerjakan haji) dan menyembelih Qurban.  Mungkin penyambutan bulan Dzulhijjah tidak seramai bulan Ramadhan, hanya orang-orang yang hatinya terpaut akan perintah Allah SWT untuk mengerjakan amalan bulan tersebut. Seperti Puasa sunnah di bulan Dzulhijjah, masih bisa dihitung yang melaksanakannya. Padahal setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku (HR. Bukhori no. 1904).  Begitu besar pahala puasa yang kita persembahkan untuk Allah, dimana kita harus berjuang melawan hawa nafsu sendiri.

Berqurban adalah amalan lainnya di bulan Dzulhijjah.  Alhamdulillah saya dua tahun terakhir ini tepat tanggal 12 Oktober di hari kelahiran bisa menyerahkan qurban.  Berqurban adalah perjuangan mengalahkan antara kebutuhan dan keinginan.  Kalau kita memandang qurban adalah sebuah kebutuhan, maka kita harus berusaha untuk mendapatkannya.  Kalau Handphone (HP) bisa kebeli, harusnya berkurban juga bisa. Tanya hati lebih penting mana komunikasi di akhirat lancar daripada komunikasi di dunia? Berapa persentase muslim yang mempunyai Handphone yang berqurban? menyicil handphone bisa namun menyisihkan uang untuk quban tidak bisa, dimana letak kecintaan kita? Malu sama pemulung dan tukang cuci yang berqurban. Padahal kehidupan mereka kekurangan namun tetap mau berbagi.  Ada kemauan dan keseriusan, maka pasti ada jalan.  Zaman sekarang update teknologi Hp makin gencar sehingga banyak yang membeli dan kita menjadi makin konsumtif serta melupakan hakikat hidup itu untuk berbagi.  Seberapa besar pengguna Hp yang menggunakan teknologi Hp untuk membesarkan ayat-ayat Allah?  Bukan untuk tampil sok suci ketika status kita tentang hadist/ayat-ayatNya serta selalu mengajak kebaikan, setidaknya pengingat untuk diri sendiri.

Tidakkah kita tergiur? Tiap helai bulu, darah yang mengalir, dan kuku hewan Qurban ada pahala.  Heran saja kalau mobil bisa kebeli, sedangkan Qurban tidak kebeli. Bukankah kendaraan akhirat lebih penting? Mari kita bercermin sudah layakkah kita cepat masuk surga tanpa kendaraan? Renungkan pula apakah tahun depan ada yang bisa menjamin kita masih bertemu bulan Dzulhijjah? Semoga kita diberi kemudahan dan keluasaan hati untuk berqurban. Tidak mementingkan gonta ganti Handphone dibanding berqurban.  Keseriusan hati memudahkan jalan.

Berhaji bukan semata-mata gelar dan identitas diri, namun sebagai wujud nyata ketaatan kita kepada perintah Allah SWT. Banyak negara tidak menggunakan gelar haji, hanya orang-orang Indonesia dan Malaysia saja yang menambahkan gelar haji di depan namanya. Menjadi seorang Haji / Hajjah yang amanah tidak cukup dengan bermodal uang puluhan juta saja lalu pergi ke Mekkah. Tapi bagaimana semua kepercayaan Allah yang diberikan kepadanya, bisa diaplikasikan dikehidupan kesehariannya dan berdampak baik.

Setiap muslim di dunia pasti mempunyai keinginan untuk berhaji. Mekkah adalah milik orang muslim, siapapun bisa ke Mekkah karena Mekkah bukan haknya orang kaya saja. Ada tukang beca, tukang sapu, tua, muda, berbagai suku belahan bumi paling ujungpun akan sampai di sini. Setiap amal yang Allah SWT perintahkan, sebenarnya manusia itu mampu atau berpotensi untuk mampu. Perbedaanya ada yang serius dan ada yang tidak. Berhaji bukan hanya sekedar keinginan dan hanya menunggu tanpa ada aksi nyata apa yang bisa kita lakukan untuk meraih impian tersebut. Impian itu di langit, jadi kita perlu tangga untuk menggapainya berupa doa dan ikhtiar. Mengenai ilmu, akhlak dan uang masih kurang, itu bukan masalah utama, yang terpenting sudah ada langkah konkrit. Berhentilah mencari 1001 alasan, cukup lakukan saja apa yang kita bisa. Allah menilai keseriusan kita, bukan jumlah uang kita. Kalau menurut-Nya kita sudah saatnya dipanggil, kelak ada saja jalannya.

Langkah konkrit pertama adalah buka rekening khusus haji, berapapun uang yang kita punya walaupun hanya ratusan ribu yang terpenting sudah niat, bukan menunggu uang cukup dulu baru niat berhaji. Setelah uangnya cukup untuk uang muka atau mendapat nomor porsi, maka segerakan mendaftar ke DEPAG. Saat ini antrian panjang bisa belasan tahun tergantung kuota. Walaupun dalam waktu jangka panjang uang belum mencukupi untuk segera mendapatkan porsi haji, namun Allah sudah melihat niat dan kesungguhan serta ikhtiar kita. Bahkan andaikan kita sudah tidak ada umur tapi kita sudah tercatat sebagai tamu Allah. Mudah bukan?  Justru setelah berhaji tidaklah mudah karena seorang Haji/Hajjah memiliki beban moral yang harus dipertanggung jawabkan bukan hanya selama di dunia melainkan juga ketika di akhirat. Selain itu mereka yang sudah berhaji menjadi suri tauladan atau panutan dasar bagi lingkungan disekitarnya.

Untuk membeli mobil seharga ratusan juta mampu namun berhaji yang hanya puluhan juta saja tidak bisa.  Kalau motor kita bisa kredit tapi untuk buka rekening haji saja masih mikir-mikir. Kalau uang untuk nyicil rumah di dunia bisa tapi menyisihkan uang untuk “rumah” di surga masih terasa berat. Di mana letak KESUNGGUHAN kita? Saya pribadi adalah seorang anak kos yang masih makan nasi bungkus dan untuk berhemat masih suka jalan kaki/tidak naik angkot karena ban motorpun saya tidak punya apalagi kendaraannya.  Bismillah semoga ada rezekinya awal menabung untuk berhaji hanya Rp. 500.000,- yang penting sudah punya niat anggaplah ini tabungan masa depan saya. Alhamdulillah dengan menabung dikit demi sedikit bisa mengumpulkan untuk ongkos naik haji dan Allah SWT memudahkan jalannya.

Jadi bukan sekedar hanya ingin berhaji tapi harus ada persiapan. Mulai niat persiapan berhaji yaitu membekali ilmu (berproses belajar tentang serba serbi haji di internet/datang ke pengajian/bertanya kepada ahlinya/baca buku), meningkatkan amal (sedekah memancing rezeki, puasa senin-kamis, berkurban, baca Al-Quran dll) dan lanjutkan menyimpan uang di rekening haji adalah wujud keseriusan sebagai tanda dari ketakwaan hati.  Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk berhaji. Aamiin.

Image

Ibu kota di Indonesia yang paling malas saya kunjungi adalah Jakarta.  Apalagi dengan kondisi zaman sekarang penuh kemacetan, panas, debu polusi dan jalanan makin sempit saja dengan terbaginya jalan khusus bushway di tengah.  Di balik gemerlap kota Jakarta masih ada rumah-rumah yang tak layak huni di pinggiran kali.  Miris memang tingkat sosial yang makin jomplang dan tingkat kriminalitas tinggi di Ibu kota. Kehidupan ibu kota sangat keras bahkan ada yang bilang “Ibu Kota Lebih Kejam daripada Ibu Tiri”.

Pagi itu saya ada keperluan ke Jakarta dan mencoba menikmati perjalanan. Berbagai aktivitas bisa kita lihat di pinggir jalanan Jakarta dari pedagang, pengamen, peminta-minta dll.  Mata saya tertuju dengan seorang bapak yang sedang menghitung lembaran uang recehan seribu dan dua ribu. Saya heran melihat prilaku bapak ini, uang recehan tersebut satu persatu diletakkan dekat bola matanya. Ternyata setelah seksama saya perhatikan sebelah matanya buta dan satunya lagi sepertinya kabur (tidak jelas) sehingga untuk melihat uang harus dengan jarak dekat sekali dengan mata. Kasian saya melihat bapak itu.  Namun Bapak ini bisa beruntung, dengan keterbatasannya melihat maka beliau tidak bisa melihat para gadis-gadis penjaja rokok dengan rok mininya, atau melihat hal-hal negatif lainnya yang terlarang sehingga beliau terhindar dari maksiat mata.

Mata dan Ibu kota bisa menggoda iman seseorang. Godaan Ibu kota sangat besar dari fashion (mode), food (makanan), dan fun (kesenangan). Di akhirat kelak,  mata ini akan berbicara apa saja yang pernah dilihat? bagaimana dengan diri ini sendiri yang memiliki penglihatan normal? sepanjang perjalanan membuat saya berpikir bahwa dalam kehidupan harus selalu mengambil hikmah dari segala peristiwa daripada mengeluh dan menyalahkan keadaan. Mata dunia bisa membuatmu gelap namun jangan biarkan mata akhiratmu gelap, karena mata seseorang boleh buta namun mata hati jangan sampai buta.

Pernahkah kita perhatikan ke dua tangan ini? Maha besar Allah SWT yang menciptakan kedua tangan dengan begitu sempurna. Apa yang telah kita lakukan untuk mensyukuri tangan ini? Hal rutin yang kita lakukan adalah mencuci tangan ketika tangan kotor dan menggunting kuku adalah bagian dari memelihara pemberianNya.  Pernakah menggunakan tangan ini untuk orang lain? Banyak hal yang bisa dilakukan dengan tangan ini contohnya membuang sampah pada tempatnya, menyingkirkan sesuatu yang berbahaya di jalanan, menyebrangkan jalan untuk orang tua atau anak kecil, berbagi payung, membantu yang kecelakaan, membantu mengangkatkan barang dll.  Dengan tangan ini saya ingin melakukan sesuatu untuk orang lain antara lain menginspirasi banyak orang walaupun hanya lewat sebuah tulisan.

Ada kisah penjaga rel kereta api di Bulak Kapal Bekasi Timur adalah seorang kakek, berkat jasa beliau kecelakaan dapat diminimalisir.  Ribuan nyawa terbantu dengan adanya kakek ini. Kakek ini akan berdiri di tangah jalan dengan ke dua tangan melarang untuk melintasi rel, karena kereta segera melintas. Beliau pasti teriak-teriak kalau ada pejalan kaki atau kendaraan yang kadang nekat melintasi rel kerera api padahal kereta hampir mendekat.  Setelah kondisi aman, kakek itu akan minggir ke tepi jalan dan mempersilahkan yang mau lewat.  Ada yang kasih uang dan ada yang tidak kepada kakek itu. Aneh memang sebagian besar area publik yang termasuk berbahaya yaitu jalanan kendaraan yang melintasi rel kereta api tidak mempunyai  pintu gerbang atau portal serta penjaga gerbang khusus. Kakek ini mengajarkan kita untuk selalu tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.  Usia sudah menjelang senja tapi masih ada kemauan untuk menggerakkan kedua tangannya daripada hanya meminta-minta di jalanan atau menggambil hak yang bukan miliknya. Malu kita sebagai anak muda masih berpangku tangan.  Tangan-tangan penolong masih banyak dibutuhkan di negara ini.   Ingatlah Rasulullah SAW bersabda : Allah Akan Memudahkan Urusan Orang Yang Membantu Saudaranya (HR. Muslim).  Semoga tangan ini yang kelak memudahkan kita  jalan menuju surga. Aamiin

Image

Image

Pagi hari saya berjalan kaki dan tak sengaja berjumpa dengan seorang bapak tua.  Posisi saya ada di belakang bapak tersebut dan tidak ada komunikasi diantara kami.  Ketika saya perhatikan, beliau berjalan tanpa alas kaki.  Saya tidak tau mengapa demikian, entah sandalnya putus, tidak punya alas kaki atau memang sengaja tidak memakai alas kaki. Tapi sepertinya Bapak ini sudah terbiasa berjalan kaki tanpa alas kaki, karena dari suaranya biasa saja ketika menjajakan dagangannya serta kedua kakinya tampak besar, tebal dan pecah-pecah.  Kedua kaki itu sebagai tumpuan berjalan kiloan meter untuk  mendorong gerobak yang berisi daganganya.  Bapak ini menjual keripik kacang, dan makanan lainnya. Kaki pencari nafkah tanpa lelah sebagai modal utama berjalan.  Mungkin di banding bapak tersebut, kaki saya belum ada apa-apanya, beliau demi keluarga rela mengais rezeki dengan berkeliling hanya menggunakan kakinya. Hal tersebut membuat saya merenung sepanjang melangkahkan kaki ini. Saya malu sama diri ini, kadang masih ada terselip lupa sama pemberian Allah :(   Apa yang telah saya perbuat dengan kaki ini? Sudah melangkah kemana saja kaki ini?  Kaki ini tempat berpijak di bumi, jangan pernah sombong dan berharap pujian dari penduduk bumi.  Ya..Rabb, maafkan hamba dengan segala alfa dengan kaki ini. Semoga dengan kaki ini saya lebih menghargai hidup dan bersyukur karena banyak orang lain yang kurang beruntung. Harapan di akhir hidup, kaki ini bisa menjadi saksi tambahan amal sholeh ketika di hari perhitungan kelak. Aamiin.  Bagaimana dengan kaki anda?

Pagi hari jam 6.15 WIB, saya sudah di Bulak kapal (Bekasi) menunggu bis Bogor untuk berangkat kerja. Ada pemandangan yang begitu memprihatinkan kakek dan nenek yang masih tidur di emperan toko. Padahal baru beberapa hari BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, bagi pejabat atau kalangan atas mungkin tidak masalah karena tunjangan hidup mereka lebih dari cukup tapi bagi kalangan bawah sangat terasa.  Namun sebagian besar orang-orang ini yang nyaman tinggal di “istana”,  apakah masih mengingat sesamanya yang tinggal di emperan toko?  Semoga hati mereka tergerak untuk membantu orang-orang yang masih di bawah taraf kemiskinan.   Saya sendiri kurang mengerti dengan kebijakan pemerintah dengan menaikkan BBM, sehingga otomatis semua sisi kehidupan berpengaruh dari harga bahan pokok  sampai pengeluaran transportasi.  Katanya sih BBM naik untuk mensubsidi orang-orang yang tidak mampu, pada kenyataannya orang susah makin bertambah? sebagai contoh para tunawisma yang bisa kita jumpai jumlahnya bertambah.

Sebenarnya melihat pemandangan ini adalah pelajaran bagi diri saya pribadi yaitu jadilah orang yang pandai bersyukur sebab syukur membuat hati akan selalu lapang dan jiwa menjadi luas. Syukur dengan berbagai cara antara lain tidak mengeluh dengan apa yang telah Allah berikan karena lihatlah orang lain yang kurang beruntung daripadi diri kita.  Selain itu kalau makan jangan bersisa, tidak boros untuk hal yang tidak penting, hemat listrik, air, belanja di luar kebutuhan dll.  Kenaikan BBM harus disingkapi dengan bijaksana.  Apa saja bisa hilang, apa saja bisa tiada yang penting kita selalu berpegang teguh pada tali-Nya. BBM naik tapi sedekah tidak boleh menjadi turun, Allah yang akan mengganti semua kedermawanan kita.  InsyaAllah dengan keajaiban sedekah naik, maka rezeki ikutan naik.  “Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Memberi. Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia.” (HR. Al Baihaqi).  Hidup hanya sekali, mau dikenang sebagai apakah kita nanti? orang yang hanya peduli diri sendiri atau gemar berbagi?

IMG01791-20130617-0719Gambar 1. seorang kakek dan nenek sedang tidur di emperan toko

Pagi udara masih segar saya berjalan kaki, kemudian di jalan saya berpapasan dengan penjual minyak tanah keliliing.  Tertarik dengan bapak tua itu yang badannya sudah ringkih tapi tetap mendorong gerobak minyak tanah kemudian saya berbalik arah dan mengikuti serta berjalan di sampingnya.  Saya tidak peduli pandangan orang ketika itu melihat saya jalan berdua dengan seorang Bapak penjual minyak tanah.  Dalam benak saya bahwa manusia hanya melihat dengan mata tapi Allah melihat dengan hati.  Sebenarnya ada misi tersembunyi saya sama Bapak itu, namun untuk pendekatan saya ngajak ngobrol-ngobrol dulu.   Pertama-tama saya menyapa beliau dan bertanya “jual apa pak?” kata Bapak itu “minyak tanah neng,  ini ada wadahnya botol bekas aqua besar kalau mau beli”.  Saya hanya tersenyum dan kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan walaupun bicaranya harus sedikit keras agar bapak itu mendengarnya.  Dari hasil perbincangan kami saya baru tau kalau harga minyak Rp. 12.000/L, dan beliau hanya mendapat keuntungan Rp. 500/L, karena minyak tersebut diambil dari kios cina seharga Rp. 11.500/L.  Jarang ada yang beli minyak tanah karena sebagian besar orang sudah pakai gas.  Rata-rata yang membeli minyak tanah hanya untuk lampu templok atau keperluan skala kecil lainnya. Beliau juga bercerita untungnya hari ini masih ada orang yang berhati mulia memberi beras ± 3 liter.  Ya…Allah saya terenyuh mendengarnya dan membayangkan tiap hari beliau harus mendorong 100 liter minyak tanah dan belum tentu laku.  Tapi dengan kekurangannya, saya salut sama beliau masih mau bekerja tanpa harus menjadi peminta-minta.  Bagi bapak ini dapat uang untuk bisa makan hari ini sudah cukup.  Bapak itu tertawa senang walaupun giginya tinggal dua ketika menerima uang dari saya, tak terasa air mata mengalir ikut merasa bahagia. Kemudian beliau mendoakan saya panjang umur.  Sebelum saya jalan berputar balik lagi, saya berkata “Makasih ya pak sudah berkenan ngobrol dengan saya”.  Hari ini saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang miskin yang mengayakan hati.  Hiburan itu tidak harus mahal, berbagi dengan sesama adalah nutrisi hati juga. “Apakah ada dampaknya untuk rakyat miskin ketika BBM naik? “Balsem” yang menjadi solusi,  efektifkah untuk bapak ini? ”  tanya hati

IMG01786-20130614-0730

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.